Berikut BUMN Sektor Aneka Industri dan Pertanian Terancam Bangkrut Menurut Menkeu

      Komentar Dinonaktifkan pada Berikut BUMN Sektor Aneka Industri dan Pertanian Terancam Bangkrut Menurut Menkeu

KATEGORI

Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mewanti-wanti Badan Usaha Minik Negara (BUMN) sektor aneka industri dan pertanian. Sebab, kinerja keuangan kedua sektor BUMN itu terancam bangkrut.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan indikasi kinerja keuangan yang buruk terlihat dari indeks Altman Z-Score di mana BUMN aneka industri berada di level 0. Lebih rendah, BUMN pertanian memperoleh z-score sebesar negatif 0,4.

“Untuk sektor lainnya masih terbilang aman. Rata-rata ada di zona kuning dan hijau,” kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Senin (2/12/2019).
Berdasarkan data Kemekeu per 31 Desember 2018, sembilan BUMN aneka industri terancam gulung tikar dengan perolehan Altman Z-Score antara lain PT Dirgantara Indonesia (Persero) berada di level negatif 0,84 dan PT Pindad (Persero) yakni 1,02.

Lalu PT Industri Kereta Api (Persero) sebesar 0,92 dan PT Barata Indonesia (Persero) yaitu 0,83.
Selanjutnya, PT Krakatau Steel (Persero) senilai 0,47 diikuti PT Dok dan Kodja Bahari (Persero) di level negatif 1,72 kemudian PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) negatif 1,23.

Dilanjutkan PT Industri Kapal Indonesia (Persero) sebesar 0,89 dan PT PAL Indonesia (Persero) negatif 0,1.

Di sisi lain, BUMN pertanian yang berada di zona financial distress meliputi PT Sang Hyang Seri (Persero) menjadi perusahaan paling terancam bangkrut di mana berada di level negatif 14,02. Kemudian PT Perkebunan Nusantara (Persero) sebesar 0,35 dan PT Pertani (Persero) di level 0,82.

Namun demikian, masih ada dua BUMN pertanian yang menunjukkan kesehatan finansial yakni PT Perikanan Nusantara (Persero) yang memperoleh score 4,14 dan Perum Perikanan Indonesia sebesar 6,56.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatarwata menyampaikan salah satu penyebab banyaknya BUMN Aneka Industri dan Pertanian berada di zona merah lantaran kurangnya aset lancar pada perusahaan tersebut.

Selain itu, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang dikumpulkan perusahaan tidak cukup untuk menghadapi tekanan perekonomian.

Oleh karena itu, pemerintah akan menggelontorkan tambahan modal atau Penyertaan Modal Negara (PMN) pada perusahaan yang mengalami financial distress. Sehingga, diharapkan bisa menjadi stimulus kinerja keuangan BUMN terkait.

Adapun dana PMN bisa dihimpun dengan menerbitkan surat utang. Isa meyakini, cara ini tidak akan menimbulkan masalah. Catatannya, selama besaran utang terkendali dan perusahaan dapat membayar dengan tepat waktu.

“Memang ada beberapa BUMN yang overleverage saat diberikan bantuan modal. Ini yang harus kami perhatikan dan kendalikan secara mendalam,” papar Isa.