Akibat MUKIDI Minim Literasi | Oleh Agie Betha

      Komentar Dinonaktifkan pada Akibat MUKIDI Minim Literasi | Oleh Agie Betha

KATEGORI

Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube

Beginilah kalau punya pemimpin minim literasi. Anak-anak bangsanya melek huruf, para wanitanya medsos friendly, sementara para sepuh paham sejarah, tapi yg jadi pemimpin negara masih bingung tentang bagaimana cara MEMULIAKAN KATA EMAK.

Maka kata Emak pun hendak dipersekusi. Jika tak dibela, dapat diduga nasibnya kelak akan mirip dng kata syari, kilafah, arab, Islam kafah, kafir dan munafikun. Keberadaannya pelan2 dihilangkan, dan lama2 lenyap dari kancah perbendaharaan kekayaan bahasa.

Jika didiamkan, maka istilah Emak di masa depan menjadi kata yg bernuansa merendahkan. Nista. Setidaknya menjelang April 2019, vocabulary Emak dianggap Radikal. Lebih jauh lagi, menulis Emak dapat menunjukkan rasa intoleran bagi yg menggunakan.

Kata Mukidi, sebaiknya sebutan Emak beralih menjadi IBU BANGSA. Itu dikatakan ketika menghadiri acara Kongres Wanita Indonesia. Saat itu sang ketua kongres, Ibu Bangsa Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan: “Kami tidak mau kalau kita, perempuan Indonesia yang mempunyai konsep Ibu Bangsa sejak tahun 1935, sebelum kemerdekaan, kalau dibilang emak-emak. Kami tidak setuju! Tidak ada The Power of Emak-emak. Yang ada The Power of Ibu Bangsa.”

Memang aneh pendapat Mukidi dan konco2 nya. Dia bangga menyebut TANOS dan AVENJERS, tapi geuleuh menyebut Emak.

Padahal kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, alm Profesor Daoed Joesoef, dalam buku memoarnya tentang sosok Ibunda yg dipanggilnya EMAK, ia bertutur:

“Alangkah bahagianya mempunyai emak. Dia yang membesarkan aku dengan cinta keibuan yang lembut. Dia yang selalu memberikan aku pedoman di dalam perjalanan hidup. Dia yang, di setiap langkah, tahap dan jenjang, membisikkan padaku dalam usahaku mengolah budaya kreatif, baik yang terpaut pada ilmu pengetahuan maupun yang menyangkut dengan seni. Dia yang tidak pernah mengecewakan, apalagi menyakiti hatiku. Satu-satunya duka yang disebabkannya adalah ketika dia harus pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya”. Daoed menyebut emak sebagai sosok yang sempurna baginya. Emak menjadi ‘dunia’ baginya. Dengan segala keterbatasannya, emak memperkenalkan banyak hal dengan caranya.

Dalam dunia literasi Nusantara, Ibu disebut juga Emak, Enyak, Inaq, Inang, Nande, Amak, Mandeh, Umai, Umak, Ibuk, Simbok, Mak, Mamak, Bonda. Sebutan itu sama tingginya dan sama sucinya dengan sebutan Ibu, Mama, Mami, dan Mom. Nah, yg bisa membuat sebutan menjadi ternoda adalah perbuatannya. Misal, emak koruptor dan emak penadah, tidak akan jadi suci meski disebut ibu bangsa koruptor atau ibu bangsa penadah.

Jika kita menuruti maunya Mukidi, maka film ‘Emak Ingin Naik Haji’ harus diubah jadi ‘Ibu Bangsa ingin Naik Haji’. Mak Lampir disebut Ibu Bangsa Lampir. Berbagai iklan Mak Erot yg epic itu diganti jadi Ibu Bangsa Erot.

Di mata mereka, perubahan istilah itu seolah dapat menjadikan orang terlihat lebih intelek, elegant, serta berperikemanusiaan. Padahal pemikiran seperti itu adalah sumir, wagu, dan menjurus ke dungu. Kata Emak-Emak pro Prabowo-Sandi: “Biarin! Aye demen disebut Emak2 militan. Yg penting ada harapan listrik turun, lakik dapet kerja lagi, anak2 bisa jajan lagi, segala bedak lipensetip kebeli lagi.”

Bagi Emak-emak, perubahan istilah tidak menyelesaikan masalah. Penamaan ‘Ibu Bangsa’ tidak membuat infrastruktur dapat dikunyah bagi yg kelaparan. Tidak membuat harga bbm turun. Dan yg terutama, Emak-emak tidak dapat dibeli akalnya dengan istilah.

Emak-emak Indonesia adalah wanita cerdas yg tidak dapat dibahagiakan dengan kongres-kongresan. Karena yg Emak-Emak Indonesia butuhkan adalah #2019GantiMukidi, #2019PrabowoPresiden, dan #2019PrabowoSandi.

✊✊✊ HIDUUP EMAK-EMAK INDONESIA!!!
Sumber: https://www.facebook.com/agibetha.isnaeny/posts/1812425852209318?tn=K-R