Bukti Kebenaran Surat Ar-Rahman:19-29 dan Al-Furqan:53 Tentang Dua Air laut yang Tidak bisa Menyatu

KATEGORI

Bagikan Ke

Biasanya pertemuan laut dengan laut akan menyatu padu, baik itu warna air laut atau suhu pada air laut. Namun ada yang janggal antara pertemuan dua laut ini, yaitu laut Mediteranian dan laut Antlantik. Ketika kedua laut ini bertemu yaitu pada selat Gibraltar, Kejanggalannya adalah kedua alut ini tetap mempertahankan warnanya masing-masing dan suhu air masing-masing tanpa ada percampuran antara keduanya, seolah-olah ada dinding yang memisahkan keduanya. Subhanallah…

Kebenaran ini telah tercantum pada Al-Qur’an surat Ar-Rahman : 

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing” (QS. Ar-Rahman : 19-20)

Ayat lain yang menceritakan fenomena yang sama terdapta pada surat Al-Furqan yang berbunyi :

“Dan Dia-lah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan), yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit ; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi” (QS. Al-Furqan : 53).

Dua lautan yang tidak bercampur itu terletak di Selat Gibraltar, selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negara Maroko dan Spanyol.

Arus selat Gibraltar memang sangat besar di bagian bawahnya. Hal ini dikarenakan perbedaan suhu, kadar garam, dan kerapatan air (density)nya. Air laut di Laut Tengah (mediterania) memiliki kerapatan dan kadar  garam yang lebih tinggi dari air laut yang ada di Samudra Atlantik. Menurut sifatnya, air akan bergerak dari kerapatan tinggi ke daerah dengan kerapatan air yang lebih rendah. Sehingga arus di selat Gibraltarbergerak ke barat menuju Samudra Atlantik. Lalu apakah air ini akan bercampur denga air di Samudra Atalntik?

Tidak! Ternyata ketika air laut dari Laut Tengah menuju Samudra Atlantik, mereka tidak mencampur. Seakan ada sekat yang memisahkan kedua jenis air ini. Bahkan batas antara kedua air dari dua buah laut ini sangat jelas. Air laut dari Samudra Atlantik berwarna biru cerah, sedangkan air laut dari laut dari Laut TEngah berwarna lebih gelap. Inilah keajaiban alam. TIdak hanya itu yang aneh dari perilaku dari kedua air laut ini. Ternyata, air laut dari Laut Tengah yang tidak mau bercampur dengan air laut dari Samudra Atlantik ini menyusup dibawah air laut berasal dari Samudra Atlantik. Air dari Laut Tengah ini menyusup di bawah air dari Samudra Atlantik di bawah kedalaman 1000  meter dari permukaan Samudra Atlantik.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Air laut dari Lautan Atlantik memasuki Laut Mediterania atau Laut Tengah melalui Selat Gibraltar. Keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda. Suhu air berbeda. Kadar garamnya berbeda. Kerapatan air (density) airpun berbeda. Waktu kedua air itu bertemu di Selat Gibraltar, karakter air dari masing- masing air laut tidak berubah. Penguapan air yang di Laut Mediterania sangat besar, sedang air dari sungai yang bermuara di laut Mediterania berkurang sekali. Itulah sebabnya air Lautan Atlantik mengalir deras ke laut Mediterania.

Arus air alut di Selat Gibraltar

Sifat lautan ketika bertemu, menurut modern science, tidak bisa bercampur satu sama lain. Hal ini telah dijelaskan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan adanya perbedaan massa jenis, tegangan permukaan mencegah kedua air dari lautan tidak bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka.

Air laut Mediteranian, yang berwarna biru tua menyusup sampai kedalaman 1000m dari permukaan laut, di lautan Atlantik, dan terus masuk sejauh ratusan km di lautan Atlantik dan tetap tidak berubah karakteristiknya.

Ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang benar dan tidak pernah salah serta akan terus terjaga kemurniannya sampai kiamat tiba yang diturunkan kepada Rasul yang menjadi penutup segala Rasul yaitu Nabi besar Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *