Catatan Harian Ust. Felix Siauw: Gelaran Fase Dakwah

KATEGORI

Bagikan Ke

Fase pertama adalah pembiaran, peremehan, menganggap dakwah itu hanya diemban oleh orang-orang muda yang bodoh, miskin dan papah, tak punya harta apalagi kuasa

Namun kelompok kecil itu kuat sebab iman, mulia karena akhlak, rapih sebab syariat, ide-ide mereka revolusioner mencerahkan, menjungkirbalikkan kekufuran dan pendukungnya

Fase kedua itu fitnah dan penyiksaan, propaganda dan dera, cambuk diumbar, tombak menyasar, hukuman disebar. Dengan maksud menebar teror dan ketakutan diantara manusia

Tapi dakwah tidak terhenti, meski wajah lebam, atau luka dalam, tulang patah atau kehormatan hilang. Kelompok itu meyakini bahwa perintah Allah tak bisa dibatalkan manusia

Fase ketiga menjelang, lebih gila lagi dari sebelumnya, apa yang mereka yakini kini mereka langgar sendiri, tradisi dan adat dari kaum terdahulu diselisihi, demi syahwat kekuasaan

Lagi, dakwah diuji dengan kekurangan segala-galanya. Kini tiap jiwa yang didalamnya ada iman kembali dicoba, manakah yang lebih penting, Pencipta ataukah semua yang diciptakan

Kita belajar dari langkah-langkah Rasul, bahwa dakwah ini tentang kesabaran, tentang pengorbanan, tentang cinta dan kesetiaan, tentang siapa yang lebih istiqamah

Kita dihibur oleh kisah-kisah Rasul, bahwa kemenangan yang akan menjadi ujung dari ketaatan, bahwa kebahagiaan yang akan jadi upah bagi mereka yang beriman

Kita diberikan kesempatan yang lebih besar untuk mendapat pahala, dipilih Allah untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sudah diberi nikmat sebelum kita

Inilah jalan yang selalu kita pinta dalam shalat, jalan yang dipilih oleh Nabi, Rasul, syuhada, dan salihin. Dimana di jalan itu kita menyelisihi mereka yang dimurkai oleh Allah Swt

Di jalan itu mereka mempersiapkan kehidupan yang mulia dengan tegaknya Islam, atau mati yang penuh kenangan dalam syahid, keduanya sama-sama di jalan Allah

Sekarang fase demi fase itu dibukakan kepada kita, satu-satu, dan kini satu lagi, mungkin yang terakhir. Saat dakwah dianggap serius oleh kaum munafik, dan mereka jadi panik

Lalu segala jalan ditutup buat pengemban dakwah, tempat eksekusi pun dipersiapkan. Yang mereka lupa, tak ada dalam sejarah, ada akhir yang baik bagi keburukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *