Catatan Ust. Felix Siauw: Antara Pendakwah dan Penguasa

Bagikan Ke

Setahu saya, banyak kisah Nabi di dalam Al-Qur’an berurusan dengan penguasa di masanya. Kecuali ya Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, karena mereka penguasanya
Pelajarannya, ketika Allah mengutus Nabi dan Rasul-Nya untuk suatu kaum, membenahi mereka dengan hukum Allah, maka yang biasa merasa terganggu adalah penguasa

Sebab mereka khawatir, saat cahaya kebenaran tampak, maka ketidakadilan akan terlihat jelas, kedzaliman mereka terancam sirna, dan kekuasaan mereka merasa terancam
Saat itu terjadi, biasanya akan ada propaganda, deraan, atau pemboikotan yang dilakukan oleh penguasa yang ada. itu terjadi pada Ibrahim, Musa, Isa, dan Rasulullah Muhammad



Kita juga tahu, Allah takkan membiarkan kedzaliman terjadi, sebab itu diturunkanlah Nabi dan Rasul untuk meluruskan manusia dan perilakunya, menuju keluhuran fitrah
Tapi bukankah Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir? Lalu siapa yang membenahi ummat saat sudah tidak lagi ada Nabi dan Rasul yang membawa risalah dan dakwah?

Karena itulah Islam berbeda dari yang dibawa Nabi dan Rasul terdahulu. Mukjizat Nabi Muhammad ditinggal di bumi, tidak diangkat sebagaimana Nabi sebelumnya
Sebab ummat Muhammad, Muslim, adalah ummat dakwah. Yang mereka diberikan Al-Quran dan As-Sunnah, agar mereka menyeru manusia taat, amar makruf nahi munkar

Siapa yang tak suka ketika Al-Quran dan As-Sunnah diserukan? Dulu yang tak suka kebaikan adalah Namrud, Firaun, Kaisar, Quraisy Jahiliyyah, sekarang ada versi barunya
Dahulu dakwah para Rasul ditentang penguasa yang merasa kekuasaannya bakal terancam, sekarang kurang lebih sama, dakwah pasti akan mendapatkan halangan, Maka sematan “provokatif”, “memecah belah”, “SARA”, “intoleran”, “menimbulkan ketegangan”, dulu sudah dipanen para Nabi dan Rasul, bisa jadi sekarang pun begitu

Sayangi manusia, ikhlaskan dakwah karena Allah semata, selalu sesuaikan lisan dan perbuatan dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka semua itu cukup bagi kita
Kita berdakwah karena Allah perintahkan, berhasil dan tidaknya tidak pernah Allah bebankan bagi kita, apalagi sekedar reaksi manusia, apakah itu celaan atau pujian