Kisah Pemuda Asal Lombok: Dari Celana SD Yang Bolong Sampai Diusir Dari Kos-Kosan Hingga Mendapatkan Beasiswa S2 di University Of Tsukuba, Jepang

KATEGORI

Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube

Tulisan ini kami kopas dari laman web LPDP dengan maksud agar dapat menjadi inspirasi para generasi muda untuk terus semangat menuntut ilmu meski dengan berbagai kekurangan, simak kisah pemuda asal narmada lombok barat berikut:

Saya lahir disebuah dusun di dusun Lebah Munte di pedalaman Narmada, kabupaten lombok Barat, dari keluarga yang serba terbatas. Saya anak ke sepuluh dari sepuluh bersaudara dan satu-satunya yang bisa menikmati bangku sekolah sampai universitas. Dulu saya tidak pernah membayangkan bisa kuliah, bahkan dapat melanjutkan program master di luar negeri (Jepang), karena kedua orang tua saya hanya buruh tani yang penghasilannya tak menentu. Jangankan untuk biaya sekolah, terkadang untuk makan saja kami kekurangan. Saat SD tidak ada uang jajan dari orang tua, untuk bisa jajan saya harus berjualan es mambo yang saya ambil dari tetangga. Saya jualan di sekolah saat jam istirahat, dan hasil dari berjualan itu saya gunakan untuk jajan dan separuhnya saya tabung untuk membeli buku.

Saat duduk di sekolah dasar, cara berfikir saya masih seperti kebanyakan orang di kampung, “sekolah tinggi hanya untuk orang kaya”. Walaupun demikian, saya memiliki mimpi untuk bisa sekolah setinggi mungkin, meski mimpi itu terasa begitu jauh. Untuk membeli baju sekolah SD saja keluarga saya tidak mampu. Saya hanya menggunakan seragam bekas kakak yang ukurannya lebih besar dan celananya bolong di belakang. Tidak ada tas sekolah. Saya pergi ke sekolah dengan membawa dua atau tiga buku yang disimpan di dada dalam baju. Tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang mengatar ke sekolah. Untuk ikat pinggang saya menggunakan tali dari pohon pisang atau dari tali rapia, karena di SD dulu tidak ada aturan harus pakai seragam, yang penting kita mau sekolah.

Pada tahun 2004 saya lulus dari SDN 2 Lebah Sempaga dan berharap bisa melanjutkan sekolah ke SMP. Akan tetapi keadaan ekonomi kelurga tidak memungkinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, karena di SMP diwajibkan untuk menggunakan seragam dan sepatu. Saya memutuskan untuk berhenti sekolah dengan tetap menyimpan satu harapan untuk lanjut sekolah. Selama setahun saya bersabar pada mimpi saya. Saya bekerja berjualan cilok di pagi hari dan jadi tukang cuci piring di sore hari. Upah dari berjualan cilok dan cuci piring itu saya tabung hingga terkumpul uang kurang lebih Rp500.000,-. Ketika masuk tahun ajaran baru, uang itu saya gunakan untuk membeli seragam SMP, sepatu dan buku. Banyak yang meremehkan tekad saya untuk sekolah tinggi. “Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi cukup sampai SD, selebihnya cari uang jadi TKI”. Pemikiran itu telah mengakar sejak lama, sehingga sebagian besar anak-anak di kampung saya hanya memiliki ijazah SD, bahkan tidak memiliki ijazah kemudian merantau ke Malaysia.

Setahun menabung akhirnya saya bisa melanjutkan SMP pada tahun 2005. Saya sangat bersemangat meski sering jalan sejauh ±3 km dari rumah ke sekolah, dan setelah pulang sekolah saya harus berjualan cilok lagi untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Dalam hati saya mengatakan “bisa jadi ini adalah pendidikan terakhir saya” kata-kata itu mengiris hati, tapi juga menjadi motivasi untuk memberikan yang terbaik. Di SMP saya selalu mejadi bintang kelas dan bersaing untuk juara umum sekolah. Saya juga aktif berorganisasi. Saat duduk di kelas 2, saya terpilih menjadi ketua OSIS dan aktif di organisasi Pramuka. Perpaduan antara kegiatan sekolah yang sangat padat dan rumah saya sangat jauh membuat saya lebih sering menginap di rumah guru yang seperti orang tua bagi saya, Hj. Rukyatun Ulya namanya, Guru-guru saya selalu memberikan semangat dan motivasi untuk tetap sekolah dan melanjutkan ke jenjang SMA. Saya masih teringat ada sosok guru sekaligus pembina Pramuka, kanda Satria Jayadi, telah merubah pemikiran “saya anak petani dan saya bisa kuliah…..” kata-kata beliau mejadi motivasi yang selalu saya ingat.

Pada tahun 2008 saya lulus SMP. Dengan dorongan guru-guru, tekad untuk melanjutkan ke jenjang SMA semakin besar. Harapan itu terbuka ketika SMA 1 Narmada menerima saya dengan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) sehingga saya di bebaskan dari biaya SPP dan uang bangunan. Jarak dari rumah saya ke sekolah sekitar 15 km dan kendaraan umum sangat jarang melintasi kampung saya. Tapi Tuhan punya jalan-Nya, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, selama sekolah SMA. Saya dapat menumpang di rumah orang, yaitu rumah bapak Munajad di Desa Selat. Jarak dari rumahnya ke sekolah sekitar 1,5 km. Saya ucapakan terimakasih dengan mengajarkan anaknya mengaji. Untuk memenuhi kebutuhan, saya menjadi pembantu pembina pramuka SD, yang dari sanalah saya mendapatkan uang untuk makan dan lain-lain.

Di bangku SMA saya di tempatkan di kelas unggulan, kebanyakan teman sekelas saya adalah anak orang kaya dan mengikuti les privat. Ketika tes IQ, hasil tes IQ saya paling rendah di kelas. Saya berusaha menghibur diri, “prestasi tidak ditentukan oleh IQ, tapi kemauan” dan itu terbukti. Saya bisa menjadi juara kelas. Berada sekelas dengan anak orang kaya yang les privat tidak membuat saya menyerah, malah saya semakin berani untuk bermimpi. Mungkin kalian pernah mendengar cerita orang-orang yang selalu menuliskan mimp-mimpi mereka dan menempelkannya di dinding kamar. Itulah yang saya lakukan sejak SMA. Menulis semua mimpi di secarik kertas dan menempelkannya di dinding kamar. Banyak teman-teman yang tertawa membaca tulisan itu, tapi saya yakin tawa itu adalah awal dari pujian. Saya sadar secara ekonomi untuk melanjutkan ke bangku kuliah adalah hal yang mustahil. Tapi saya memberanikan diri untuk menulis target untuk kuliah, bukan sekedar kuliah, tapi saya ingin kuliah di Jawa dengan target universitas-universitas terkenal, Brawijaya, UGM dan ITB. Nama universitas itu juga saya tulis disamping tempat sholatku. Setiap solat dalam setiap sujud saya selalu berdoa agar saya bisa kuliah.

Tahun 2011 adalah akhir saya berada di SMA. Bersama teman-teman saya ikut mendaftar penerimaan mahsiswa jalur undangan. Ajaibnya saya adalah satu-satunya yang diterima jalur undangan dari sekolah saya di Universitas Brawijaya, program Ilmu Kelautan, FPIK. Saya sempat berkata pada seorang teman “mengapa saya diterima di Brawijaya, saya tidak mungkin mengambilnya….” saya lupa pada mimpi yang saya tulis, karena saat itu orang tua saya tidak memiliki uang. Uang yang mereka punya hanya Rp30.000. Uang sebanyak itu jangankan untuk ongkos ke Jawa, untuk biaya hidup 3 hari di Mataram saja tidak cukup. Orang tua saya berusaha mencari pinjaman, namun tidak dapat. Akhirnya mereka menyerah dan menyarankan untuk berhenti. Tiga hari menjelang daftar ulang kebesaran Tuhan datang lagi pada saya, di mana pahlawan tanpa tanda jasa, para guru, mengumpulkan uang untuk ongkos saya ke malang untuk daftar ulang. Meskipun saya tidak tahu di Malang saya akan bertemu siapa dan tinggal dimana nantinya. Saat berangkat ke Malang, orang tua berpesan agar saya tetap menjaga sholat dan sebuah kalimat yang menguatkan langkahku “Ibu tidak bisa bantu kamu dengan uang nak,tapi ingatlah nama mu selalu ku sebut dalam doa disetiap sujud terakhirku,”

Semester Pertama di Malang adalah masa-masa tersulit yang saya rasakan. Saya ngekos tapi saya di usir. Akhirnya saya tinggal di komisariat organisasi untuk beberapa bulan, kemudian pindah ke Asrama Mahasiswa Lombok Barat (IKPM), hingga akhirnya tinggal di Masjid jadi takmir sampai lulus. Saat awal kuliah, untuk bertahan hidup saya berjualan kopi keliling pada malam hari, karena pagi sampai sore saya kuliah. Saya tidak mungkin mundur dan mengecewakan orang-orang yang telah mensuport saya kuliah “sekali layar berkembang, pantang pulang sebelum bawa ikan” prinsip hidup yang membuat saya bertahan. Di Brawijaya ternyata ada beasiswa BIDIK MISI. Pada penerimaan gelombang ke 2 saya diterima beasiswa tersebut. Inilah titik balik saya kembali menata mimpi. Mimpi-mimpi yang saya miliki saya tulis kembali. Saya bermimpi lolos PKM, lolos Program Mahasiwa Wirausaha (PMW), lulus dengan predikat cumlaude, melanjutkan kuliah ke luar negeri dst. Mimpi itu tertulis disetiap sudut dinding kamar. Tulisan itu adalah motivasi, penyemangat, dan penguat di saat lelah. Selama kuliah IPK saya tidak pernah dibawah 3.5. Pada tahun 2013 saya menjabat sebagai Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FPIK, pernah 2 kali mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) DIKTI, di 2014 lolos Program Mahasiswa Wirausaha, dan di 2015 saya meraih gelar sarjana kelautan (S.kel) dengan predikat cumlaude IPK 3,70. Dan tahun 2016 saya lolos beasiswa LPDP untuk melanjutkan program master (S2) ke Jepang dan hingga saat ini saya masih menempuh S2 di University Of Tsukuba, Jepang.

Sekali lagi saya katakan “ jangan takut untuk bermimpi, mimpi bukanlah tentang uang, tapi tentang keyakinan dan harapan. Ketika harapan itu masih ada, yakinlah mimpi itu akan jadi nyata, bermimpilah untuk menjadi orang besar dan dekatlah dengan Zat Yang Maha Besar, maka kamu akan didekatkan dengan orang-orang yang akan mengantarkanmu untuk mejadi orang yang besar”.

Penulis: Eri Sahabudin (Awardee LPDP program Magister di University of Tsukuba, Jepang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.