Kronologis Kematian Ketua DPRD Kolaka Utara ditangan Istrinya Sendiri

KATEGORI

Bagikan
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us

Banyak yang penasaran bagaimana sosok Andi Erni Astuti, istri dari Ketua DPRD Kolaka Utara, Mussakir Sarira yang tega membunuh suaminya menggunakan pisau dapur.
Andi Erni telah ditetapkan sebagai tersangka setelah melakukan tindakan nekat karena terbakar api cemburu pada suami.
Diketahui, pasangan suami istri ini sudah dikaruniai tiga orang anak yaitu, Ratu (11), Lady (10), dan juga Quen (9).
“Kabarnya dipicu oleh kehadiran orang ketiga,” kata kerabat Musakkir, Rabu (18/10/2017) malam .
Andi Erni sendiri adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di Dinas Kesehatan Kolaka Utara yang menjabat kepala bagian.
Pada awalnya keluarga korban mengaku luka tusuk pada perut korban tersebut diakibatkan oleh terjatuh di kamar mandi.
Namun, polisi tidak bisa mempercayai hal tersebut begitu saja.
Setelah melakukan penyelidikan, Polres Kolaka pun menetapkan istri korban sebagai tersangka pembunuhan suaminya.
Sebelumnya, memang terjadi pertengkaran hebat antara korban dan istri.
Saat kejadian, Musakkir Sarira ditemukan tewas mengenaskan di dalam kamar mandi rumah dinasnya. pada Selasa (17/10/2017).
dalam keadaan bersimbah darah, politisi PDI-P yang baru saja menunaikan ibadah haji bersama istrinya tersebut kemudian langsung dilarikan ke RSUD Kolaka Utara.
Namun, karena tidak ada Dokter Ahli Bedah saat itu, korban terpaksa dirujuk ke RSUD Kolaka yang jaraknya sekitar 150 kilometer.
Korban pun meninggal di perjalanan karena kehabisan darah.
Erni sendiri mengaku melakukan perbuatan nekat tersebut karena cemburu pada suaminya yang dipicu oleh kehadiran orang ketiga.
Dikabarkan Erni membabi buta menikam suaminya karena murka tidak sudi dipoligami dan pelaku telah diamankan pihak kepolisian setempat.
Hal serupa diungkapkan oleh Sekretaris DPD I PDI-P Sultra, Litanto, mengaku bahwa mendapatk keterangan dari keluarga jika korban dan istrinya sering cekcok.
“Memang suka cemburu buta istrinya. Almarhum terima telpon selalu dicurigai dengan perempuan lain. Peristiwa ini sangat saya sesalkan,” tuturnya dihubungi via telpon, Kamis (19/10/2017).
Bahkan sebelum berangkat haji dikatakan istrinya sempat meminta cerai, namun ditolak almarhum karena memikirkan anaknya.
Ia menyesalkan kenapa istri korban harus melakukan penganiayaan hingga mengakibatkan Ketua DPD II PDI-P tewas.
“Yang jelas, kami PDI-P Sultra sangat kehilangan kader terbaik. Saya sama-sama almarhum sudah 30 tahun berkarir di PDI-P dari bawah, jadi jelas saya sangat kehilangan sahabat yang penuh dedikasi,” ungkapnya.
Litanto juga mengaku dirinya dan almarhum terakhir berkomunikasi dengan korban beberapa hari yang lalu.
Dalam obrolan tersebut mereka memiliki rencana pada hari Rabu depan mereka akan bertemu Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di Jakarta.
“Sudah saya hubungi terkait kabar duka ke Pak Mendagri dan beliau sangat kaget.”
“Padahal kami sudah janjian mau bertemu Pak Menteri. Tapi Tuhan lebih dulu memanggil beliau,” ungkapnya saat menghadiri pemakaman Ketua DPRD Kolaka Utara.
Sementara itu, salah seorang kerabat almarhum yang meminta namanya dirahasiakan menuturkan, sebelum penikaman, pasangan suami istri itu sempat cekcok.
“Pas Pak Ketua mau keluar dari kamar mandi, tiba-tiba istrinya datang menusukkan pisau di perutnya Pak Ketua.”
“Almarhum masih sadar dan istrinya bawa masuk dalam kamar dibaringkan di ranjangnya, dokter dari RSUD Jafar Harun dikontak untuk memeriksa dan disuruh bawa ke rumah sakit untuk ditangani medis,” tuturnya.
Pertengkaran keduanya sering terjadi. Bahkan, sang istri sering melakukan kekerasan terhadap suaminya.
Namun almarhum tetap mempertahankan rumah tangganya karena memikirkan tiga anaknya yang masih kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *