Pergantian Nama Bandara Internasional Lombok Manjadi Bandara Internasional KH. M. Zainuddin Abdul Majid Semakin Menguat

KATEGORI

Bagikan Ke

MATARAM-Usulan pergantian nama Lombok International Airport (LIA) menjadi Bandara Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid menguat. Hampir semua kalangan di NTB mendukung perubahan itu. Bahkan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan Pusat (TP2GP) yang turun ke NTB juga setuju akan hal itu.

Ketua TP2GP yang juga Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Sudarmanto, saat menemui Gubernur NTB menyatakan, nama Maulanasyeikh pantas dijadikan nama bandara sebagaimana daerah lain di Indonesia. Bahkan ia juga mengusulkan kepada gubernur untuk membuat Hamzanwadi Center. Semacam pusat studi dan kajian perjuangan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid.

”Dia sangat mendukung nama bandara diganti,” kata Kepala Dinas Sosial NTB H Ahsanul Khalik yang hadir dalam pertemuan itu.

Secara khusus, TP2GP berkunjung ke NTB untuk melihat dari dekat antusiasme masyarakat yang menginginkan gelar pahlawan nasional bagi TGKH M Zainuddin Abdul Majid. Tim dipimpin  ketua rombongan Dr Sudarmanto. Didampingi dua pejabat Direktorat Kepahlawanan Kemensos RI, Daniel Saleeha dan Luberto Azis.

Pagi harinya, mereka diterima Gubernur NTB  TGB HM Zainul Majdi di ruang kerjanya. Hadir pula dalam pertemuan itu Sekda NTB H Rosiady Sayuti, Kadis Sosial H Ahsanul Khalik, serta Karo Humas dan Protokol Setda NTB H Irnadi Kusuma.

“Tujuan kami ke sini, ingin melihat lebih dekat dan juga merasakan antusiasme masyarakat NTB,” kata ketua rombongan TP2GP Sudarmanto.

Setelah menemui gubernur, tim tersebut berkunjung ke Pancor. Melihat makam Maulanasyeikh, dan beberapa tempat yang menjadi tanda peninggalan pendiri Nahdlatul Wathan (NW) itu. Ia mengaku senang dengan doa, harapan, dan antusiasme masyarakat NTB kepada Maulanaseyikh.

Kepada TP2GP Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi menyatakan, hanya NTB yang belum memiliki pahlawan nasional yang ditetapkan pemerintah. Karena itu, atas perjuangan dan dedikasinya, Maulanasyeikh layak diberikan gelar pahlawan nasional. Itu akan menjawab doa dan harapan masyarakat NTB selama ini.

Kepada Tim tersebut, TGB menceritakan, bahwa ulama yang juga dikenal Kyai Hamzanwadi itu menjadi sosok kebanggaan warga NTB. Tidak hanya pada masa hidupnya, namun sampai saat ini. Ilmu dan pengabdiannya tetap menjadi pedoman bagi generasi NTB.

Menurutnya, Maulanasyeikh berhasil membangun persatuan dengan semua kalangan di NTB. ”Beliau membangun daerah dan bangsa ini dengan merangkul semua komponen masyarakat melalui pendekatan agama,” tegas TGB.

Ia berharap, seluruh anak bangsa dapat menyerap dan menjadikan sosoknya sebagai inspirasi. Konsep perjuangan dan dakwah yang dilakukan Maulanasyeikh perlu diteruskan.

Sementara itu, usulan mengganti nama bandara, menjadi Bandara Internasional Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, menurut TGB sangat baik. Bila memang ada usulan, Pemprov NTB akan menerima. Itu merupakan bentuk ekspresi kegembiraan, karena salah satu putra terbaik NTB akan ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional.

“Kita terima dan tentu nanti pada waktunya akan dibicarakan dengan tokoh masyarakat, serta semua pihak yang berkepentingan,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Majelis Adat Sasak (MAS) Lalu Bayu Windia mengatakan, masyarakat Sasak sangat setuju jika nama LIA diganti menjadi Bandara Internasional Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid.

”Tonjolkan nama atau gelar Tuan Guru-nya. Itu sangat identik sebagai identitas masyarakat Sasak,” tegasnya.

Baginya, Maulanasyeikh adalah ulama yang sangat visioner. Ide dan buah fikirannya jauh melebihi zamannya. Itulah sebabnya, apa yang telah dibangun dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi saat ini, dan generasi akan datang. ”Perjuangannya tidak pernah terputus hingga akhir hayatnya,” kata Bayu.

Dengan dedikasi itu, hampir tidak seorang pun di NTB yang tidak mengenalnya. Hubungan sosialnya terjaga dengan baik. ”Ide dan gagasan pembaharuannya terus hidup dan mempengaruhi masyarakat luas,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB H Syahdan Ilyas mengatakan, Ia sangat setuju usulan nama bandara menggunakan nama Maulanasyeikh. Kalau pun nanti diganti, ia mengusulkan dengan nama Bandara Internasional Maulana Zainuddin. Atau Bandar Internasional Maulanasyeikh Zainuddin.

”Cukup dengan itu, tepat dan wajar tidak perlu konsultasi lagi,” tegasnya.

Dengan sebutan Maulana Zainuddin sudah mencerminkan kepahlawanan dan keulamaan. Baginya Maulanasyeikh adalah seorang panglima. Seperti Jenderal Sudirman, tidak pikul sejata, tapi bawahannya berperang melawan penjajah atas inisiasinya. Dia mengerahkan Laskar Mujahidin, bergabung bersama laskar lainnya seperti Banteng Hitam dan Laskar Bambu Runcing. ”Madrasah dijadikan markas besar perjuangan,” ujarnya. (ili/r5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *