Jum. Sep 18th, 2020

PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

SPACE IKLAN DISEWAKAN

info@lombokgroup.com

Cloud Hosting Indonesia

Lebih dari 650 ribu warga Rohingya telah lari ke Cox’s Bazaar, Bangladesh, sejak akhir Agustus 2017 untuk menyingkir dari kekerasan dan persekusi di negara bagian Rakhine. Sekitar separuh dari mereka adalah anak-anak. Demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Jumat (12/1/2018).
.
Penasihat senior UNICEF, Marixie Mercado belum lama ini kembali dari kunjungan ke Myanmar. Ia mengatakan, sulit untuk memperoleh gambaran sebenarnya mengenai anak-anak yang masih berada di sana, karena tidak adanya akses. Namun, ia dapat memperoleh yang disebutnya pandangan sekilas yang merisaukan mengenai betapa menyedihkan kehidupan anak-anak yang tinggal di Rakhine Tengah.

Baca Juga:  Prostitusi Hewan Di Ibu Kota Serbia, Belgrade

Mercado mengatakan, lebih dari 60 ribu anak Rohingya masih berada di negara bagian Rakhine, hampir terlupakan dan terjebak dalam 23 kamp tempat mereka mengungsi akibat kekerasan tahun 2012. Mercado menggambarkan kondisi di dua kamp yang dikunjunginya.

“Kedua kamp berada di wilayah yang terletak di bawah permukaan laut. Hampir tidak ada pohon sama sekali. Hal pertama yang menyambut kita di kamp adalah bau yang menyengat yang membuat kita merasa mual,” ujar Mercado.

“Bagian-bagian kamp merupakan genangan air limbah. Kemah disangga tiang-tiang, dan di bawahnya adalah sampah dan kotoran manusia. Di satu kamp, kolam tempat orang mengambil air hanya dipisahkan dari genangan air limbah dengan tanggul dari tanah,” tambahnya.

Baca Juga:  JOKOWI Heran Impor CANGKUL Hingga Ratusan Ribu Buah

Mercado juga mengatakan, anak-anak berjalan tanpa alas kaki di tanah becek dan sebagian dari mereka telah meninggal karena kecelakaan atau penyakit.

Ditambahkan, sangat sulit bagi warga Rohingya itu untuk meninggalkan kamp untuk mendapat perawatan medis. Karena itu, orang minta bantuan tabib tradisional, penyedia layanan kesehatan yang tidak terlatih, atau mengobati diri sendiri. Badan PBB untuk Urusan Anak (UNICEF) menyatakan, mayoritas Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar adalah anak dibawah umur. Saat ini total jumlah pengungsi sudah mencapai 600 ribu orang

Baca Juga:  Dibawah Pimpinan TGB: NTB Menjadi Contoh Terbaik dari Pelaksanaan Program Millennium Challenge Corporation (MCC)

Komentar