Jum. Sep 18th, 2020

PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

SPACE IKLAN DISEWAKAN

info@lombokgroup.com

Cloud Hosting Indonesia

Banyak yang mempertanyakan bagaimana memandang dan menyikapi kondisi menjelang perhelatan demokrasi dalam beberapa waktu ke depan, di mana banyak tantangan dan potensi konflik menghadang. Bagi saya, semuanya tergantung cara pandang dan strategi mengolah persepsi. Tentunya dari sisi yang positif dan optimistik.

Negara ini selalu memiliki peluang dan energi besar untuk membangun dan membenahi ke arah dan bentuk yang lebih baik. Namun dalam hukum aksi dan reaksi, setiap peluang dan energi besar, pasti akan mendapatkan reaksi balik berupa tantangan dan energi tolak yang juga besar. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan peluang bersama tantangan itu demi perbaikan Indonesia yang lebih baik lagi dari hari ini. Tentu melalui jalur yg benar, yang sudah kita sepakati. Tidak dengan menghalalkan yang haram, ataupun sebaliknya, mengharamkan yang halal. Misalnya sistem politik dan pemerintahan yang sudah kita pilih. Kita pegang komitmen itu, jaga agar selalu di koridor yang benar dan selalu berikhtiar ke arah yang lebih baik bagi semua.

Baca Juga:  Respon Gubernur NTB (TGB) Terhadap Penyerangan Warga Ahmadyah Di Lombok Timur

Energi besar yang kita punyai, harus bisa kita kanalisasikan menjadi daya kekuatan positif. Fokusnya adalah menjadi bahan bakar untuk bekerja menjaga kekompakan, persaudaraan dan persatuan untuk mengisi setiap instrumen demokrasi dan pos kepemimpinan sebagai alat perubahan. Gunakan untuk kemaslahatan seluruh masyarakat dan buang setiap kemudharatan yang menyertainya.

Kenapa? Karena Indonesia hari ini adalah amanah hasil perjuangan para bapak pendiri bangsa, para perumus dasar-dasar negara, para kiai, habaib atau ulama Islam dan pemuka-pemuka agama lain, di masa lalu. Demi menuju kemerdekaan Indonesia, dari 1942 hingga 1945, mereka rela menggantikan kajian kitab-kitab kepada belajar ilmu bela diri dan strategi perang demi perjuangan fisik melawan penjajah. Hingga akhirnya terbentuk negara bangsa bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya konsisten mengajak semua orang untuk selalu menjaga amanah para ulama, yang harus kita anggap sebagai berkah dari Allah itu, sebaik-baiknya.

Baca Juga:  "Amarah Belum Meredam" Jet-Jet Udara Israel Mengebom GAZA, 25 Warga Terluka

“Analogi menuju kebaikan dan berkah Allah adalah seperti burung terbang dengan dua sayapnya dan kendali kepalanya. Kepala burung adalah Al-Mahabbah (cinta), dan dua sayapnya adalah Al-Khauf (kewaspadaan) dan Ar-Rojaa’ (optimisme). Harus ada kolaborasi antara ketiganya, supaya bisa terbang tinggi dan cepat sampai setiap tujuan”

Komentar