PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com
Cloud Hosting Indonesia

Saya mengenal beliau saat pertama kali memasuki bangku perkuliahan di UIN Alauddin Makassar, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, jurusan Kesehatan Masyarakat tahun 2011.

Ya, beliau adalah dosen saya waktu itu. Sosoknya yang santun dan ramah kepada siapa saja termasuk kepada mahasiswa membuat beliau pernah menyabet gelar sebagai Dosen Terfavorite.

Setelah lulus kuliah, beliau pun menawarkan saya untuk bergabung di perusahaan yang beliau kelola. Wah, saya baru tahu ternyata dibalik profesi beliau sebagai dosen beliau juga seorang pengusaha. Benar, beliau Owner Chocolicious Indonesia dan beberapa perusahaan yang lain.

Kurang lebih setahun bergabung di Chocolicious Indonesia membuat saya benar-benar bertumbuh. Dari sini saya mulai menemukan passion dan jati diri saya khususnya di bidang pekerjaan.

Beliau mengamanahkan saya sebagai Digital Merketing di Chocolicious Indonesia dan beberapa perusahaan yang beliau miliki.

Demi tercapainya visi perusahaan, tak jarang apabila ada event entah itu seminar ataupun workshop beliau selalu ikut atau mengirim tim untuk diikutkan. Mungkin saya yang paling sering diantara yang lain dikirim keluar kota untuk mengikuti workshop Digital Marketing.

Baca Juga:  Pro-Kontra Pergantian Nama Bandara Lombok, Siapa M. Zainuddin Abdul Majid?? Simak Ulasannya

Terakhir kemarin saya bersama beliau mengikuti Workshop Extreme Funneling-nya Kang Dewa Eka Prayoga di Bandung selama 3 hari.

Dalam beberapa hari itu pula saya mulai mengenal beliau lebih dalam. Karena di Makassar sendiri, saya jarang sekali sangat ketemu dengan beliau. Itupun kalau ketemu hanya sebentar saja.

Banyak sekali hikmah dan ibrah yang saya pelajari dari beliau. Mulai dari cara bicara, berprilaku, hingga yang membuat saya terkagum adalah sholat malam (tahajud) yang tak pernah terlewatkan.

Makannya pun kami di tempat sederhana, di warteg dan penjual sate yang berada dekat dari hotel kami. Padahal kan, orang seperti beliau pasti sudah menginginkan makan di tempat yang berkelas seperti restoran dan semacamnya.

Beliaupun kemana-mana tak pernah mengenakan jas atau pakaian resmi semacamnya. Cukup baju kaos dan kemeja biasa yang beliau pakai. Pokoknya sederhana.

Tak hanya itu, beliau juga sering tak memberikan uang pas alias lebih kepada penjual tempat kami makan dan driver grab yang kami tumpangi.

Baca Juga:  Muallaf Pulau Timor Butuh Al-Qur'an dan Pembinaan

Bahkan pernah setelah Workshop di Bandung selesai kami lanjut ke Jakarta mengikuti pertemuan Internasional Tokoh Genpro, sayapun dipanggil bergabung bersama tokoh-tokoh hebat di ruangan VIP, dalam hati “Ya Allah, aku belum pantas berada di tempat ini” dan acapkali ketika beliau ditanya oleh orang yang dijumpainya, “Sama siapa kesini?” beliau tak mengatakan dengan karyawan saya atau bawahan saya, atau siapaun itu melainkan beliau mengatakan, “Dengan tim saya” Duhhh, dalam hati Ya Allah ini Bos atau Malaikat, rendah hatinya kebangetan…

Terakhir saat perjalan kami pulang kembali ke Makassar di pesawat beliau bertemu dengan seorang karyawan dari Wisma Kalla. Posisi saya waktu itu antara tidur dan sadar.

Saya dengar samar-samar, si bapak karyawan Wisma Kalla menanyakan profesi beliau, dan lagi-lagi dengan kerendahan hati beliau menjawab, “Saya seorang dosen di UIN Alauddin” padahal kan bisa saja beliau mengatakan saya memiliki usaha bla bla bla dan bla bla bla…

Baca Juga:  Kisah Dramatis Seorang Berkebutuhan Khusus Masuk Islam di Mualaf Center Indonesia (MCI)

Saya dengar mereka berdua tertawa dan si bapak karyawan Wisma Kalla berkata kepada beliau, “Kayaknya bapak ini banyak yang suka karena keramahannya” Beliaupun langsung menimpali dengan doa “Alhamdulillah, Masya Allah, barakallahu fik”

Ya Allah, speachlesss….

Dan yang membuat saya kaget hingga membuka mata saya adalah ketika orang tersebut bertanya ke beliau tentang saya maka dengan keramahannya beliau menjawab bahwa saya adalah anak muda mandiri yang bekerja sebagai online marketing di beberapa perusahaan.

Duh pak, padahal saya ini kerja di perusahaan bapak, saya karyawan bapak.

Ah, begitulah sosok beliau yang penuh rendah hati dan tak ingin dianggap lebih. Saya sangat bersyukur dipertemukan oleh beliau. Semoga beliau beserta keluarga senantiasa dalam lindungan Allah Subhanahu wata’ala, sukses untuk semua perusahaan yang dikelolanya, diberikan rejeki yang berkah dan berlimpah, hingga nantinya bisa kembali bersua di surga.
sc: FB Akhi Rahman
*Silakan dishare jika sosok ini menginspirasi Anda

Komentar