Jum. Sep 18th, 2020

PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

SPACE IKLAN DISEWAKAN

info@lombokgroup.com

Cloud Hosting Indonesia

Dengan harta yang dimilikinya, orang-orang kaya memang bisa membeli apa yang ia inginkan berapa pun harganya. Tetapi, orang super kaya ternyata merasa malu jika label harganya terlihat orang lain, loh!

Ahli sosiologi Rachel Sherman, mewawancari 50 orangtua di New York dengan pendapatan minimal 4 miliar rupiah pertahun.

Salah satu kesamaan yang ia temukan dari orang-orang kaya itu adalah mayoritas akan merobek label harga barang yang ia beli sehingga orang lain tak tahu berapa uang yang ia belanjakan.

Dalam hal kekayaan atau harta, orang-orang super kaya itu juga tidak pernah menunjukkan bahwa ia “kaya” atau “kelas atas”.

Baca Juga:  KH. Nonov Hanafi Berterima kasih terhadap Banser Garut

Menurut Ahli sosiologi Rachel Sherman, mayoritas orang kaya lebih suka istilah “nyaman” atau “beruntung”

Sebagian orang super kaya juga mengelompokkan dirinya ke dalam “kelas menengah” atau “di tengah”, karena mereka membandingkan dirinya dengan orang yang lebih kaya lagi.

“Orang-orang yang saya wawancara itu tidak pernah membual tentang harga yang mahal. Mereka justru bersemangat bercerita ketika berhasil menawar harga barang, memberi pakaian di tempat biasa, atau naik mobil tua,” katanya.

Apa yang Sherman temukan itu sejalan dengan yang dituliskan Thomas C.Corley dalam bukunya “Rich Habits”. Ia melakukan wawancara selama 5 tahun dengan para milyuner untuk mengetahui kebiasaan yang membuat mereka menjadi kaya.

Baca Juga:  Rumah Tangga Bahagia, Bukan Dilihat Dari Seberapa Besar Gaji Suami Kamu

Secara umum, Corley menemukan bahwa orang kaya ingin dianggap sebagai sesuatu yang normal dan mereka ingin lebih dermawan.
Sumber : nova.grid.id

Komentar