PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

SPACE IKLAN DISEWAKAN

info@lombokgroup.com

Cloud Hosting Indonesia

Penceritaan kisah-kisah dalam agama sebenarnya mengikuti pola penceritaan dongeng.

Pesan untuk mengalahkan kepentingan pribadi dan menegakkan perintah agama seberat apapun itu bisa ditangkap dalam keseluruhan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail.

Keteguhan hati Ibrahim untuk menyembelih anaknya dan keteguhan hati Ismail menerima nasibnya digambarkan dalam dialog-dialog mereka dalam Qur’an, godaan setan yang menghalangi juga digambarkan dengan menarik. Kita menjadi lega saat malaikat disaat-saat terakhir mengganti Ismail dengan domba.

Pesan yang sama bisa kita tangkap pada kisah Nabi Nuh. Ketika seluruh desa mengolok-olok Nuh karena membuat bahtera di atas bukit dan ramalan mustahilnya tentang azab banjir yang akan diturunkan Allah, Nabi Nuh tetap teguh melaksanakan perintah Allah. Semustahil apapun itu. Kita menjadi lega manakala Allah benar-benar menurunkan banjir yang menenggelamkan para kafir yang menertawakan Nuh.

Baca Juga:  Setelah Jiwasraya, Kini TASPEN Dalam Pengawasan Ombudsmen Karena Investasi Minus 23%

Agama menyampaikan itu dengan mengajak kita menyaksikan kehidupan para Nabi dan terlibat secara emosional dalam drama mereka. Dengan menyimak banyak kisah dalam kitab suci, kita bisa tahu apa yang penting bagi kita, apa yang perlu kita perjuangkan dan apa yang perlu kita lawan.

Pudarnya kisah agama, pudarnya pesan agama.
Seperti remaja yang tak lagi tertarik dongeng fabel, masyarakat masa kini banyak yang tidak lagi tertarik pada kisah para Nabi.

Para pendakwah yang tidak lagi telaten, memotong-motong kisah panjang para Nabi hanya untuk mengambil pesan-pesan pentingnya tidak sadar bahwa kekuatan kisah para Nabi ada pada keseluruhan cerita, dan bukan pada bagian-bagiannya. Ketika kisah dipotong-potong, perhatian bergeser dari keseluruhan cerita kepada detil cerita.

Baca Juga:  Status Puasa Bagi Orang-Orang Yang Meninggalkan Shalat

Karena mimpi, Ibrahim menyembelih anaknya
Orang jadi bertanya, kenapa Ibrahim percaya begitu saja pada mimpi dan mau menyembelih anaknya berdasarkan mimpi? apa agama menganjurkan kita percaya begitu saja pada mimpi yang sering tak masuk akal?

Orang jadi bertanya, kenapa Ibrahim melempari batu pada setan yang tidak mengajak berbuat jahat, melainkan mengajak Ibrahim menggunakan nalar untuk menolak perintah tidak masuk akal? apa begitu kita harus bersikap pada orang yang kritis?

Orang jadi bertanya, jika Nuh tidak dapat mengajak semua orang mengikutinya, kenapa Allah dengan mudahnya membunuh semua orang? kenapa kita tidak mempertanyakan metode dakwah Nuh yang tidak efektif? kenapa tidak Nuh saja yang secara ajaib diupgrade kepandaiannya berdakwah daripada membunuh ribuan (atau jutaan) orang karena tidak kompetennya Nuh menyampaikan ajaran?

Baca Juga:  Bocoran Jodoh manusia Menurut AL-Qur'an

Orang jadi bertanya, apa benar Nuh berumur 950 tahun sebagaimana dikatakan Qur’an dan Bible? bukankah itu tidak masuk akal dan tidak pernah ada bukti bahwa manusia bisa setua itu?

Orang jadi bertanya, apa benar Sulaiman bisa bicara dengan semut? bukankah bicara itu memerlukan perkembangan otak yang jauh lebih kompleks?

Sebagaimana dongeng, kisah agama hanya efektif bila faktor “menarik” dapat mengalahkan faktor “mengetahui”.

Bagaimana pesan agama bisa diterima, jika penuturnya lupa pada kaidah bercerita yang mengasyikkan dan terlalu berusaha menyampaikan pesan dengan gaya menggurui serta penuh kutipan-kutipan bahasa Arab yang tak dimengerti?

Komentar