Ming. Sep 20th, 2020

PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

SPACE IKLAN DISEWAKAN

info@lombokgroup.com

Cloud Hosting Indonesia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pihaknya akan terus mewaspadai fluktuasi nilai tukar Rupiah yang telah menembus angka Rp 14.700 per Dolar Amerika Serikat (AS).

Angka ini semakin jauh meninggalkan target yang ditetapkan dalam APBN 2018 sebesar Rp 13.400 per USD.

“Ya kami akan awasi dan waspadai,” ujar Sri Mulyani saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Sebelumnya, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus melemah dalam beberapa bulan terakhir. Hari ini, Rupiah tercatat melemah menjadi Rp 14.734 per USD. Pelemahan ini terparah sejak awal tahun.

Baca Juga:  DPR: Kalau KTP Bisa Seumur Hidup, Kenapa SIM Gak?

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan nilai tukar ini dipicu krisis Turki dan krisis Argentina. Selain itu, rencana kenaikan suku bunga The Fed juga turut membuat Rupiah terkapar.

“Karena tekanan global dari kenaikan Fed rate meningkat, perang dagang AS China, dan ketidakpastian harga minyak mentah. Saat ini krisis di Turki dan Argentina jadi bara api yang menjalar secara sistemik ke negara berkembang,” ujar Bhima kepada merdeka.com di Jakarta, Kamis (30/8/2018).

Bhima mengatakan, pelemahan Rupiah dalam jangka panjang akan berpengaruh kepada daya beli masyarakat. Sebab biaya impor meningkat sehingga harus dibebankan kepada harga jual ke konsumen.

Baca Juga:  Viral Video Scurity Agung Podomoro Melarang Pemilik Apartemen Kibarkan Bendera Merah Putih

“Dampaknya kalau rupiah terus merosot akan membuat daya beli masyarakat anjlok karena biaya impor pangan naik dan kenaikan harga jualnya dibebankan ke masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, bagi industri manufaktur biaya produksi dan beban utang luar negeri semakin menjerat. Potensi gagal bayar utang swasta bisa memperparah stabilitas sektor keuangan.

“Dari sisi domestik konsumsi rumah tangga melambat, defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan naik.

Permintaan dolar untuk pembiayaan bunga dan cicilan pokok utang swasta dan pemerintah juga memberatkan rupiah,” kata Bhima. Sc: liputan6.com

Baca Juga:  Lebaran H2 Situng KPU Belum 100% Pengamat: Ini Diluar Kewajaran

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Komentar