Jum. Sep 18th, 2020

PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

SPACE IKLAN DISEWAKAN

info@lombokgroup.com

Cloud Hosting Indonesia

Saya sebenarnya kurang suka menulis fakta-fakta yang walaupun bernilai kebenaran tapi cenderung akan memanaskan suhu perpolitikan kita menjelang Pilpres mendatang.

Hanya saja melihat gencarnya serangan pembelokan opini dari kelompok berkepala besar dengan otak kopang dan berlogika kosong, biasanya kita permudah dengan menyebutnya Cebong, OK jualan kalian saya beli.

Pertama kita bahas HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia.
Benar ormas ini telah dilarang oleh rezim sekarang tanpa proses pengadilan.
Dan sampai sekarang masih banyak orang yang bingung, apa kesalahan ormas ini?

HTI memang anti Demokrasi karena mereka meyakini di Islam tidak ada konsep dan ajaran Demokrasi. Tetapi bertahun-tahun ormas ini berdiri dan menyuarakan aspirasinya, satu kalipun saya tidak pernah mendengar HTI memaksakan orang ikut mereka dan menciderai esensi dari Demokrasi itu sendiri.

Aktivitas HTI lebih banyak berputar disekitaran isu Palestina, Rohingya dan isu-isu kemanusiaan lainnya. Makanya mereka lebih sering “happy-happy” di depan kedubes Amerika, Myanmar dan Australia.
Saya katakan “happy-happy”, karena unjuk rasa mereka selalu damai.
Tentu saja tidak ada bakar ban apalagi kerusuhan yang anomalinya justru biasa dipertontonkan kelompok pegiat Demokrasi.

Baca Juga:  Berikut Cara Cuci Kemaluan yang Betul, Kalau Tidak Mau Disiksa Malaikat Di Alam Kubur Nant

Kesimpulan saya, tidak ada yang salah dengan HTI.
Tuduhan mereka akan mengganti ideologi Pancasila dengan Khilafahiyah adalah bukti betapa rendahnya nalar kita dalam berbangsa.
Bagaimana mungkin HTI akan mengganti ideologi negara sedangkan mereka tidak ikut di permainan Demokrasi.
Bagaimana bisa mereka akan merebut kekuasaan sedangkan mereka tidak punya tentara dan senjata?

Bagi saya pribadi, kelompok HTI tidak jauh berbeda dengan fans-fans Drakor dan klub-klub anti keriput menjelang lima puluh tahunan.
Mereka mencoba merajut fatamorgana dan melupakan kenyataan yang ada.
Kalau mimpi kosong bisa membuat orang bahagia, apanya yang salah?

Sekarang jutaan mata anggota dan simpatisan HTI mulai terbuka sejak dizalimi oleh rezim berkuasa sekarang.
Banyak diantara mereka memutuskan “muallaf politik” dan hijrah ikut berdemokrasi.
Akhirnya mereka mengakui sistem Demokrasi Pancasila, bagus bukan?
Masalahnya karena mereka memilih dibarisan pendukung Ganti Rezim, makanya dipersoalkan.

Sekarang kita beralih ke kelompok sisa-sisa peradaban masa kelam Indonesia.
Anggota PKI secara organisasi sudah pasti tidak ada karena Partai ini secara resmi sudah bubar dan terlarang sejak mereka terbukti makar dan bertindak brutal. Bukan cuma sekali, tapi sejarah mencatat dua kali kelompok anti Ketuhanan Yang Maha Esa ini melakukan kudeta terhadap Pemerintahan yang sah.

Baca Juga:  Akibat MUKIDI Minim Literasi | Oleh Agie Betha

Hanya saja, walaupun tidak mudah membuktikannya karena merupakan Partai dan Ideologi terlarang, beberapa kali kasus terbongkarnya simpatisan-simpatisan Komunis menjadi fakta yang tidak terbantahkan kalau masih banyak pendukung Komunis di Negeri Pancasila ini.

Bahkan salah satu anggota DPR RI dari Partai Pendukung Pemerintah menulis buku ” Aku Bangga Jadi Anak PKI”.
Sebuah Proklamsi pernyataan sikap yang begitu lugas dan menantang.
Jadi sudah jelas arah dan posisi mereka dimana.

Secara logika sikap simpatisan Komunis atau PKI akan selalu bertentangan dengan simpatisan Khilafahiyah atau HTI.
Tentu saja tugas kita dua kelompok pejuang Demokrasi Pancasila yang berseberangan di Kubu Ganti Rezim dan Kubu Lanjut Dua Periode untuk menyadarkan dan membimbing mereka.

Hanya saja menggaungkan muallaf-nya HTI ke Kubu 2019 Ganti Presiden dan dengan otak kosong menuduh Oposisi akan mengganti ideologi Pancasila jadi Ideologi Khilafahiyah akan menimbulkan tuduhan yang sama, Kubu sebelah berarti akan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis ya?

Baca Juga:  Ketua Umum Muallaf Center Indonesia Dan 2 Artis Ini Akan Kunjungi Korban Gempa Lombok-KLU

Sampai sekarang saya bangga dengan muallaf politiknya saudara-saudara HTI dan memilih menyalurkan aspirasi politiknya sesuai demokrasi di Kubu 2019 Ganti Presiden.
Saya yakin kubu sebelah juga bangga dan menikmati dukungan simpatisan komunis bersama mereka.
Mungkin saja pengaruh dua ideologi yang bertolak-belakang ini yang mewarnai kericuhan politik kita menjelang Pilpres sekarang.

HTI karena suka mengaji maka selompok pendukung ganti rezim jadi suka mengaji politik. Sebaliknya PKI karena memang suka kudeta dan terkenal brutal, makanya kelompok sebelah jadi anarkis, razia kaos, bakar-bakar ban dibandara sampai melarang ceramah Ustadz Somad.

Menurut saya, justru paling berbahaya adalah kelompok yang disusupi ideologi PKI. Faktanya PKI sudah pernah melukai demokrasi negeri ini, mereka terang-benderang anti Pancasila, anti Tuhan dan anti kemanusiaan.

Jadi kalau ada yang ribut, kelompok 2019 Ganti Presiden ada orang HTI-nya, tinggal diluruskan.
Kita lebih senang menerima muallaf politiknya orang-orang yang beriman daripada sampah-sampah anti Tuhan !!!

Note : Terima kasih yang sudah mengingatkan beda Khilafiyah dengan Khilafahiyah 😊
#SayaPancasila
#SayaAntiPKI
#TirikYaluk
SC: azwar siregar facebook

Komentar