Guru Korban Gempa Dapat Tunjangan Khusus, Perawat Tidak, Dimana MENKES??

      Komentar Dinonaktifkan pada Guru Korban Gempa Dapat Tunjangan Khusus, Perawat Tidak, Dimana MENKES??

KATEGORI

Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube

Beredarnya berita tentang adanya pemberian tunjangan khusus bagi para guru korban gempa lombok membuat para guru di lombok cukup lega, namun pemerintah juga tak boleh menutup mata karena selain para guru ada juga orang-orang hebat yang mestinya diberikan hak atau apresiasi yang sama seperti para guru tersebut.

Mendengar kabar yang beredar seorang perawat bernama Ns.DEDY ROMI HARJO.S.Kep menulis surat terbuka dimedia sosial yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia, berikut isi surat yang menyebar dimedia sosial:

Yang Terhormat
Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Semoga Ibu/Bapak Menteri tetap dalam keadaan sehat agar tetap bisa menjalankan tugas Kenegaraan

Celotehan Terbuka ini datang dari salah seorang petugas kesehatan ( perawat ) yang berasal dari Kabupaten Lombok Utara NTB

Saat ini kami di KLU NTB sedang dalam masa transisi pasca gempa kedua tanggal 05 Agustus 2018 yang total meluluh lantakan Kabupaten kami yang baru berusia bisa di bilang sangat muda

Pasca kejadian itu kami semua lumpuh total
perkantoran perkantoran pemerintah hancur tempat tempat sekolah hancur tempat tempat ibadah hancur
tempat pelayanan kesehatan pun tidak luput dari kehancuran

Saya sangat ingat betul sampai saat ini di mana pada malam pasca kejadian rumah sakit tempat kami memberikan pelayanan kesehatan menjadi satu satu nya tempat pelayanan publick yang masih bisa di fungsikan meskipun kami bekerja di tempat terbuka semua ruangan total tidak bisa kami gunakan tetapi kami tetap memeberikan pelayana terbaik kepada semua korban

Pasien korban bencana datang dari semua arah penjuru kabupaten, darah tercecer di mana mana tangisan para korban dan keluarga korban sudah hampir tidak kami dengarkan lagi karna kesibukan kami dalam memberikan pelayanan walapaun posisi kami sama dengan para korban

karna sejatinya kami juga adalah korban, tetapi kami tetap bertahan dalam memberikan pelayanan walaupun dengan hati dan perasaan was was

Di luar sana kami juga punya tanggung jawab kepada keluarga kami
kami punya orang tua kami punya istri kami punya anak juga yang harus kami selamatkan
tetapi tanggung jawab.
Tetapi kewajiban itu kami abaikan demi profesi kami PERAWAT

Sekarang semua sudah usai sudah 1 bulan lebih pasca gempa bumi sudah kami lalui tetapi cobaan ini tidak berhenti sampai di sini, Cobaan yang lebih mengerikan datang lagi bagi kami ini adalah bencana baru buat profesi kami, profesi kami mempertaruhkan segalanya. Dalam masa transisi dan sampai saat ini profesi kami hanya mendapatkan ucapan turut berduka mulai dari pemimpin paling bawah sampai pemimpin tertinggi di negeri ini.

Sedikitpun profesi kami tidak pernah di hargai sperti profesi lain yang mendapatkan kejutan pasca bencana gempa bumi

Saat ini yang kami tanyakan kemana Menkes kenapa sedikitpun profesi kami perawat tidak pernah mendapatkan apresiasi dalam bentuk tindakan nyata,

kami juga perawat adalah korban, korban harta benda semuanya sudah hilang hanya keluarga kami yang tersisa yang selalu menunggu kami pulang dengan prasaan was was

Kami tidak menuntut banyak kepada Menkes
kami hanya ingin sedikit saja di perhatikan seperti halnya profesi profesi yang lain.

Terima kasih
Ns.DEDY ROMI HARJO.S.Kep

Lombok Utara
Minggu 09 September 2018