PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Ingin tulisanmu dipublikasikan disini? kirim ke Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

NEGARA ALA MANAJEMEN WARUNG KOPI GANG BECEK | Oleh: Azwar Siregar

3 min read

Saya pikir kenaikan harga Premium selama kurang dari 120 menit itu cuma lelucon menjelang malam, ternyata setelah saya telusuri memang benar.

Bagi sebagian besar rakyat dengan logika jongkok ala kodok, batalnya kenaikan BBM bersubsidi ini adalah jasa Pahlawan Bertopeng yang selalu tidak tahan untuk muncul jadi Pahlawan Kesiangan.

“Lihat itu Pak De…luar biasa, dia nyengir aja Premium bisa batal naik, gimana lagi kalau beliau kentut ya?, bisa-bisa 100 US Dolar terbalik jadi cuma 2 Rupiah”

Negara ini benar-benar dikelola jauh dari kesan keprofesionalan.
Andai saya menemukan kata dibawah kelas amatir, mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan orang-orang yang mengelola negara kita dibawah Pemerintahan rezim berkuasa sekarang.

Sebagai warga negara yang sama-sama memiliki hak yang sama atas negara ini, hanya kebetulan saja “amanah” pengelolaan atas negara ini ditangan mereka, jujur saya sangat kecewa dan muak melihat sistem manajemen suka-suka ala Warung Kopi Gang Becek yang dipertontonkan rezim berkuasa sekarang.

Sebelum gerombolan penista logika dari dusun tetangga ngamuk-ngamuk ngga jelas membaca tulisan ini, kemudian memaki-maki dan stroke sendiri, saya tekankan poin saya bukan diharga Premium, tapi keputusan asal-asalan Pemerintah yang sekarang tempe dan kurang dari dua jam kemudian jadi kacang kedele.

Baca Juga:  Bukan Negara Hukum | Oleh Ust. Fellix Siauw

Apakah kenaikan harga Premium yang akan sangat berhubungan erat dengan kondisi kehidupan rakyat jelata tidak benar-benar serius mereka kaji dan pelajari?

Alasan menunda kenaikan menunggu kesiapan Pertamina adalah alasan terkonyol yang bisa saya terima.
Berarti rapat-rapat penting untuk memutuskan kenaikan harga BBM ini tidak mengikut-sertakan pihak Pertamina sebagai BUMN yang menjadi operator penyediaan dan mendistribusikan BBM keseluruh Nusantara.

Saya curiga kalau selama ini untuk hal-hal yang sangat krusial seperti kenaikan BBM tidak ada Rapat Bersama?
Semua kebijakan dan keputusan muncul tiba-tiba dan tergantung mood dan suasana hati Pak De?
Atau lebih parah lagi kebijakan dan keputusan jalan sendiri-sendiri oleh pejabat-pejabat tanpa koordinasi dengan Pak De?
Pantas saja negara ini sekarang acakadut dan amburadul.

Sekali lagi saya melihat sistem pengelolaan negeri ini persis Manajemen Warung Kopi Gang Becek di Terminal Amplas -Medan tempo dulu.
Harga secangkir Kopi tergantung suasana hati Pak Lek Joko McGregor yang biasa dipanggil Lek Jogor, si pemilik Warung Kopi.

Baca Juga:  Hewan Yang Pertama Kamu Lihat Dalam Gambar Menunjukkan Keperibadianmu

Kalau suasana hati Lek Jogor sedang bahagia dan berbunga-bunga karena tiga angka togelnya tembus, semua pelanggan Warung Kopi-nya cukup bayar setengah.
Tapi kalau suasananya hatinya sedang mendung karena baru berkelahi dengan istri sampai-sampai kepalanya dilempar remote tipi, harga-harga secangkir Kopi bisa naik dua kali lipat, bahkan takaran gula dikurangi dan susu sachetan diganti serbuk tepung tapioka.

Syukurnya Lek Jogor biarpun ngga pernah makan bangku sekolah, apalagi makan kapur dan papan tulis, dia laksana merpati karena tidak pernah ingkar janji.
Dia misalnya pernah menjanjikan Kopi gratis buat semua pengunjung kalau Timnas menang melawan Timor Leste dan tentu saja menang, maka Lek Jogor langsung memerintahkan satu-satunya karyawan di Warung Kopi Gang Becek yang doubel job juga sebagai penjaga keamanan, tukang pukul dan juga tukang jahit, Lek Hutul Sarbin si Penjahit untuk membagi-bagikan Kopi gratis kesemua pengunjung yang datang.

Baca Juga:  Daftar 16 Kota Paling Jujur di Dunia Menurut Reader’s Digest Yang Dikutip Dari Daily Mail

Jadi maaf, menurut saya Manajemen Warung Kopi Gang Becek milik Lek Joko McGregor masih jauh lebih bernurani dibandingkan rezim yang berkuasa sekarang.
Paling tidak setahu saya Lek Jogor ngga pernah menyusahkan warung tetangga dengan misalnya menumpuk hutang gila-gilaan.
Lek Hutul Sarbin si Penjahit juga tidak sok kuasa apalagi bergaya koboi kalau melayani pengunjung yang datang.

Jadi kawan, kalau negara kita ini cuma buat lucu-lucuan, kenapa tidak Lek Jogor aja yang kita pilih jadi Pemimpin Nasional kita?
Kalaupun nanti harga BBM tergantung suasana hatinya, paling tidak dia masih mau membaca surat-surat penting sebelum menanda-tangani.
Paling penting kalau dia dapat hutangan IMF, kita semua bisa gratis ngopi-ngopi…
Asyekkk….!!!
Sumber: https://web.facebook.com/Sir.Egar.Azwar/posts/10216075141526549

Komentar