PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

"Budayakan Lombok Membaca", Kirim Informasi atau Video Penting sekitar kamu Melalui WhatsApp Kami +62819-0770-8118 atau Email kami: info@lombokgroup.com || news.lombokgroup.com Member Of LOMBOK GROUP || www.lombokgroup.com

Cerpen | Kisah Hutang-piutang Ari Dan Keluarga Ardi Yang Menyayat Hati

4 min read

“DI.., pinjem duit 400 ada gak? Nanti sore langsung aku ganti ” Ari yang seorang kabag pagi – pagi buta datang kerumah Ardi untuk berhutang.

“Bentar ya ri, aku tanya istri dulu, duitnya di pegang istri soalnya.” Ardi masuk ke dapur menemui istrinya yang sedang memasak sarapan untuk suami dan anak balitanya.

“Mah, Ari pinjem uang 400 ada gak?”
“Ada pah, tapi kalo dipinjem 400 sisa cuma seratus, aku cuma pegang lima ratus pah”
“Katanya nanti sore dibalikin mah”

“Ya udah ambil aja pah di dompetku, mungkin Ari butuh banget sampai pinjem uang pagi-pagi begini.”

Ardi memberikan uang sebesar empat ratus ribu untuk ari.
Namun, janji ari yang mengembalikan uang di sore hari ternyata tidak ditepati.

Hingga petang menjelang, ari tak menampakkan batang hidungnya. Memang ari dan Ardi berteman sejak SD. Ari orang kaya sedangkan ardi hanya sopir bajaj omprengan,itupun cuma ikut orang.

“Pah, uang yang seratus tadi mamah belanjain susu dedek, sama beli gas, tinggal tiga puluh ribu pah” istri Ardi bercerita pada suaminya.
“Iya mah, mudah-mudahan besok dibayar ya, mungkin gak sempet kesini” Ardi mencoba menenangkan istrinya.

Hingga keesokan harinya tetap tak ada tanda-tanda ari datang ke rumah Ardi. Hal ini membuat istri ardi berbelanja hanya beras dan tahu saja. Karena kebetulan beras juga habis.
“Sarapannya cuma pake tahu pah” istri Ardi menyodorkan tahu goreng hangat dan nasi.
“Iya mah, gak apa-apa, tahu juga enak”

Baca Juga:  Kisah Driver Ojek Online Yang Menggratiskan Para Pelajar Berseragam Dan Warga Yang Menuju Tempat Ibadah

“Bayaran papah kan masih seminggu hari lagi, kalo ari gak bayar hutang sekarang besok kita makan apa?”

“Nanti papah berangkat kerja coba mampir ke rumah ari ya mah, siapa tau udah bisa bayar.”

Ardi mengeluarkan sepeda motornya ke halaman depan. Dia coba menyalakan mesinnya tapi macet. Ternyata bensin kering.
“Kenapa pah? Rewel motornya?”
“Bensin abis mah!”

Istri ardi mengeluarkan uang dari saku bajunya. Hanya ada dua lembar uang. Sepuluh dan lima ribuan.

“Pah, ini buat beli bensin.” Sang istri menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Ardi.
“Nanti kalo dedek minta jajan gimana?”
“Masih ada lima ribu kok”

Ardi menjalankan motornya menuju tempat kerja. Tak lupa ia mampir ke rumah ari. Ketika Ardi sampai, ari sedang duduk santai minum teh dengan camilan pisang goreng dan beberapa kue kering.

“Ri, udah ada belum, katanya bayar siang, istriku udah gak pegang uang”
“Sabar!!! Kalo ada udah aku bayar! Nanti siang aku bayar!” Ari mmbentak Ardi dan meninggalkannya di teras. Ardi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi menuju tempat kerjanya.

Ketika sore sebelum Ardi pulang, istri Ardi dan anaknya sedang bermain di ruang tamu. Datanglah tukang bakso dan mangkal di sekitar rumah Ardi. Tukang bakso itu adalah langganan anak ardi.

“Mama, dedek mau bakso!”
“Nanti ya, tunggu papah pulang”
“Dedek maunya sekarang!”

Baca Juga:  Musuh Berakal Dan Kawan Jahil | Edisi: Ayah Ust. Felix Siauw

Istri Ardi tak sanggup menjelaskan keadaan ekonominya pada sang buah hati. Ia terus menerus merengek pada ibunya. Sesekali ia mengintip dari balik kaca, melihat teman-temannya membeli bakso.
Harga 1 porsi bakso tujuh ribu, sedangkan uang yang dimiliki istri Ardi hanya lima ribu saja.

Tak tega melihat anaknya merengek akhirnya uang itu digunakan untuk membeli bakso.
“Bang, beli baksonya lima ribu boleh?yang kecil aja gak apa-apa.”

Tukang bakso membolehkan dan segera meracik bakso untuk anak Ardi.
“Ini mbak baksonya!” Tukang bakso itu memberikan tiga plastik bakso dengan porsi penuh.

“Lho Bang! Aku cuma beli lima ribu!”
“Iya, itu bonus buat mbak yang udah langganan bakso saya”
“Makasih bang”

Istri Ardi membawa bakso itu dan memberikannya seporsi untuk anak semata wayangnya. Tak lama, Ardi pulang.
“Pah, kebetulan sekali, kita dapet rejeki dari Abang tukang bakso, dikasih tiga bungkus padahal beli lima ribu, ayo bang kita makan bareng”

Suaminya terlihat bahagia melihat istrinya senyum2. Merekapun makan bakso hingga kenyang..

“Pah, aku udah gak pegang uang, bagaiman belanja besok?”
“Papah, udah coba tagih ari, tapi papah malah dibentak, besok papa libur, nanti papah tagih lagi ya mah.” Ardi membelai lembut kepala sang istri.

Keesokan harinya, di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap. Tak ada lagi uang untuk dibelanjakan. Sang anak menolak untuk makan. Istri Ardi hanya bisa menangis.
Ardi pun bergegas, melihat istri dan anaknya makan nasi dan kecap. Ia pergi ke tempat ari dan menagihnya lagi.

Baca Juga:  Tahukah Anda Siapa yang Membiayai Dakwah Ust. Felix Siauw?

“Ari, aku udah bener-bener gak ada uang buat makan”
Ari yang sedang menyeruput kopi tak menjawab ucapan Ardi. Ia masuk ke kamar, tak lama ia keluar lagi membawa uang.

“Nih, makan tuh uang!! Pinjem duit segitu aja ditagih terus, takut apa aku gak akan bayar?” Ari melempar uang pada Ardi. Empat lembar uang seratus ribuan jatuh di lantai.
Ardi memungutnya dan pergi pulang.

“Mah, ari udah bayar, buruan belanja sana” Ardi memberikan uang pada istrinya tanpa menceritakan apa yang terjadi.

Sang istri bergegas ke warung sayur dan dijalan ia berpapasan dengan ari,
Istri Ardi baru akan menyapa ari, namun ari malah buang muka terlihat sekali ia marah.
Setelah belanja sang istri bercerita pada suami tentang apa yang dialaminya. Barulah Ardi menceritakan semuanya…

Terkadang orang memberikan hutang bukan berarti dia kaya, dia hanya memposisikan dirinya jika yang berhutang adalah dirinya yang sedang butuh uang. Namun kebanyakan orang yang diberi hutang menyepelekan hal itu. Dan sudah jadi rahasia umum jika yang berhutang memang lebih galak..

Kerja keras itu biasa, merasa cukup itu baru luar biasa ☺
Sumber: Kiriman Netizen