Ngeri, Dirut TVRI Iman Brotoseno Pernah Menulis: Islam Sontoloyo | Jejak Digital - PORTAL BERITA LOMBOK

PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

Ngeri, Dirut TVRI Iman Brotoseno Pernah Menulis: Islam Sontoloyo | Jejak Digital

5 min read

Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Televisi Republik Indonesia (TVRI) baru saja memiliki Direktur Utama (dirut) baru. Ia adalah Iman Brotoseno yang menggantikan dirut sebelumnya Helmy Yahya.

Iman disebut telah lolos enam tahapan seleksi menjadi dirut baru TVRI.

“Sudah ditetapkan Dirut Pak Iman Brotoseno. Ditetapkannya tadi malam, pelantikan hari ini jam 11,” kata Ketua Dewan Pengawas TVRI Arief Hidayat Thamrin kepada detikcom, Rabu lalu (27/5/2020).

“Beliau langsung menjabat setelah pelantikan. Hari ini pelantikan khusus dirut, di gedung TVRI lantai 3. Yang melantik dewas,” katanya.

Beberapa hari setelah pelantikannya, netizen rame-rame membongkar jejak digital seorang Dirut TVRI baru tersebut melalui akun twitternya.

Beberapa yang ditemukan dan viralkan netizen adalah tweetnya yang banyak berbicara soal Bokep dan tweet-tweet porno lainnya. selain itu juga soal dugaan terkait pembelaanya terhadap PKI banyak melintas diberbagai Media misalnya soal pernyataannya tentang “Hari kesaktian Pancasila yang sudah Tidak relevan lagi”.

Baru-baru ini kembali beredar di twitter soal tulisan lamanya yang berjudul “Lagi: Islam Sontoloyo”

Berikut kami paparkan tulisan tersebut seperti yang kami telusuri melalui https://web.archive.org

Lagi : Islam Sontoloyo

Posted by iman under: AGAMA; BERBANGSA; ISLAM; SEJARAH; TOKOH.

Sontoloyo, kuwi ateges wong kang nduwèni panggawéyan angon bèbèk. Mulanè ana tetembungan ‘Sontoloyo, angon bèbèk ilang loro’. Terjemahan : “Sontoloyo adalah orang yang memiliki pekerjaan sebagai penggembala bebek. Oleh sebab itu, ada ujaran, ‘Sontoloyo, menggembala bebek hilang dua’.
Sementara menurut kamus kata lainnya. Arti Sontoloyo : konyol, tidak beres, bodoh (bisa dipakai sebagai kata makian )

Bung Karno pernah memakai istilah ini ketika menggugat kelakuan umat yang membela aturan fikih, padahal ada yang berkonsekuensi menjadi dosa menurut agama, namun dihalalkan menurut fikih itu sendiri. Rasa geramnya terhadap praktek pat gulipat terhadap agama ditulisnya dalam artikel berjudul “ Islam Sontoloyo “ yang dimuat majalah ‘ Panji Islam ‘ pada tahun 1940. Tentu saja jika Bung Karno masih hidup, tentu saya akan meminta dia untuk mengecam para penganut Islam di jaman sekarang yang masih saja sontoloyo.

Baca Juga:  GAMBAR | Jejak Digital: Berikut Cuitan Lama Dirut Baru TVRI Banyak Tentang BOKEP

Islam sebagai agama mayoritas ternyata telah menggoda orang orangnya dengan bungkus syariat untuk bertindak seolah sebagai satu satunya pemilik sah negeri ini. Pemaksaan , ancaman dan kekerasan adalah cara yang paling mudah untuk memaksakan sebuah ide besar tentang negara Islam yang ideal.

Bukan omong kosong, jika eskalasi jumlah kekerasan terhadap kaum minoritas atau bahkan mayoritas yang berseberangan semakin meningkat. Cara cara preman untuk memberangus kemajemukan dan demokrasi itu sendiri. Akhirnya Islam menjadi alat pemukul. Benar benar Sontoloyo.

Kekerasan terhadap keberagaman di negeri ini sudah ada sejak jaman revolusi Kemerdekaan. Penculikan dan pembunuhan terhadap Romo Sanjaya, seorang pastur Katolik, oleh oknum dari organisasi Hisbullah di Muntilan Jawa Tengah, tahun 1948. Ini menunjukan betapa fanatisme sempit bisa begitu mengerikan. Tubuh biarawan itu bersama bersama Boumans, biarawan asal Belanda, ditemukan dalam keadaan telanjang tak bernyawa di sebuah sawah. Tubuhnya penuh bekas siksaan pukulan dan luka tembakan di kepalanya. Bahkan lubang hidung rekannya, pastur Belanda, ditutup dengan belahan kayu bambu.

Satu satunya alasan pembenaran pembunuhan ini adalah karena mereka orang Kristen. Tak perduli bahwa Sanjaya adalah pribumi Jawa.

Bung Hatta mengecam keras pembunuhan ini, yang telah menodai kerja keras para pendiri republik membentuk negara muda ini.

Baca Juga:  Dirut TVRI Iman Brotoseno: Hari Kesaktian Pancasila Tak Relevan Lagi

Baca Juga: GAMBAR | Jejak Digital: Berikut Cuitan Lama Dirut Baru TVRI Banyak Tentang BOKEP

Penyerangan yang dilakukan oleh mereka ormas Islam terhadap sebuah proses diskusi – dan di ruang privat – semakin meneguhkan stigma bahwa tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Termasuk hukum di negeri ini. Tiba tiba saya merasakan kegetiran yang luar biasa dalamnya.

Saya tak pernah membayangkan apa yang dipikirkan oleh seorang Pesiden SBY, ketika diam saja, melihat warganya yang ditindas, dipukuli oleh preman preman berjubah. Kita tak bisa tergantung dengan pemimpin yang lemah.

Kalau kita tarik mundur. Setelah reformasi, negara gagal mewujudkan sebagai satu satunya payung hukum. Perda perda syariat – walau mengambil dasar dari hukum agama – itu sudah bertabrakan dengan konstitusi kita. Semua pakar hukum tata negara pasti sepakat dengan itu. Betapa tidak, banyak peraturan peraturan lokal yang justru membalikan tata perilaku masyarakat yang sudah terbiasa. Misalnya larangan keluar malam bagi perempuan.

Ini adalah ujian maha penting bagi kelangsungan hidup republik ini. Bagaimana kita bisa bertahan dari hantaman mereka mereka yang menolak keberagaman, dan memaksakan sebuah negara model wahabi.
Dengan membiarkan sebuah proses diskusi yang demokratis dihancurkan. Itu akan menjadi pembenar untuk menghancurkan peri laku kehidupan lainnya yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka.
Tunggu saja. Dimulai dengan mengkafirkan mereka yang berseberangan. Lalu adat istiadat yang selama ini hidup berakar, akan digerus. Baju bodo Makasar, kemben Jawa atau Jaipongan Sunda hanya dilihat dari kacamata kaum fanatik.

Para sineas akan malas berkreasi karena bisa saja diserbu bioskopnya. Ruang budaya akan mengkeret ketakutan, karena algojo algojo bersorban memasuki ruang pentas mereka. Indonesia yang kaya dan berwarna warni, akan menjadi sama semunya. Berwarna kuning padang pasir. Kering dan gersang.

Baca Juga:  Wartawan Senior: Jokowi Bisa Jadikan Istana Posko Pemenangan GIBRAN, Dan Prabowo Ketua Tim Pemenangan

Lucunya. Mereka para ormas keblinger begitu semangat memburu diskusi buku, dan semua yang dianggap representasi barat. Namun tak pernah memburu rumah bordil, hiburan esek esek yang jelas jelas melanggar syariat. Sontoloyo !

Jadi benar apa yang ditulis Bung Karno, bahwa Islam akan membeku menjadi satu sistem formil belaka. Islam akan kehilangan jiwa penariknya. Tidak bergerak bahkan mandeg ( berhenti ).
Dan bukan saja mandeg! Kendaraan mandeg pun lama-lama menjadi amoh. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup, fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalalnya perbuatan-perbuatan kaum sontoloyooo…! Maka benarlah perkataannya Halide Edib Hanoum, bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini “bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama prokol-bambu”
Benar, ini sah, ini halal, tapi halalnya Islam Sontoloyo! Halalnya orang yang mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mau mengabui mata Tuhan!

Kalau sudah begini. Ketika hukum, polisi, aparat dan pemimpin kita menjadi mandul, ketakutan tak bergigi. Siapa salah, jika orangpun menyebutnya, benar benar negeri sontoloyo !

Komentar