PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

7 ‘MUALLAF’ Paling Berpengaruh di Dunia, Dari Politisi Hingga Anggota ‘YAKUZA’

14 min read

Photo: Dok. Istimewa/Net

Banyak warga dunia berbondong-bondong memeluk Islam dengan berbagai macam perantara hidayah yang diterimanya. Bahkan, di antara mereka ikut berkecimpung di dunia dakwah guna menyebarluaskan ajaran Islam.

Muallaf adalah sebutan bagi mereka yang mengubah keyakinan sepenuhnya memeluk Islam.

Meski tak memeluk Islam sejak lahir, ternyata tak sedikit dari kaum mualaf yang menjadi pejuang Islam dan akhirnya memiliki pengaruh yang besar di dunia Islam.

Dikutip dari beberapa media berikut 10 mualaf paling berpengaruh di dunia.

  1. Malcolm X (el-Hajj Malik el-Shabazz)
Photo: Malcolm X/Net

Malcolm X atau nama Muslim nya el-Hajj Malik el-Shabazz adalah seorang keturunan Afrika-Amerika dan aktivis hak asasi manusia.

Malcolm X lahir pada tanggal 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska.

Ibunya, Louise Norton Little, seorang ibu rumah tangga sibuk dengan delapan anaknya. Ayahnya, Earl Little, adalah seorang pendeta baptis dan anggota UNIA (Universal Negro Improvement Association) yakni sebuah organisasi yang dirintis oleh Marcos Aurelius Garvey untuk mewadahi perbaikan hidup bagi orang kulit hitam. 

Malcolm adalah seorang siswa yang cerdas dan fokus. Namun, ketika seorang guru favorit Malcolm mengatakan impiannya menjadi pengacara adalah sesuatu yang mustahil bagi ras kulit hitam, ia kehilangan ketertarikannya pada sekolah. Ia berhenti sekolah di usia 15 tahun dan menghabiskan beberapa waktu di Boston, Massachusetts bekerja serabutan dan kemudian pergi ke Harlem, New York. 

Baca Juga:  Antara Gus Dur Dan FPI

Pada usia 20 tahun ia ditangkap dan dihukum atas tuduhan pencurian, dan Malcolm dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Namun, dari balik tembok penjara ini, dia justru menemukan apa yang dinamakan pencerahan diri, mulai dari membaca dan menulis di dalam penjara Chalestown State. Ketika di penjara, Ia sering mendapat kunjungan dari saudaranya, Hilda yang akhirnya memperkenalkan Malcolm pada ajaran Islam Sunni.

Kemudian ia memutuskan untuk masuk Islam dan belajar pada pimpinan Islam sunni pada saat itu, Elijah Muhammad. Berkat Elijah-lah ia memahami ketertindasan dan ketidakadilan yang menimpa ras hitam sepanjang sejarah. Sejak itulah Malcolm X menjadi seorang napi yang kutu buku mulai dari menekuni sastra, agama, bahasa, dan filsafat.  

Baca Juga:  Why ISLAM?? Oleh Steven Indra Wibowo (Ketua Muallaf Center Indonesia)

Pada tahun 1964, setelah menunaikan ibadah haji, Malcolm X mendapatkan gambaran yang berbeda atas pandangannya selama ini. Apalagi, setelah berjumpa dengan kaum Muslimin dari seluruh dunia, dari berbagai ras, bangsa, dan warna kulit yang semua memuji Tuhan yang satu dan tidak saling membedakan. Malcolm berkata,

”Pengalaman haji yang saya alami dan lihat sendiri, benar-benar memaksa saya mengubah banyak pola pikir saya sebelumnya dan membuang sebagian pemikiran saya. Hal itu tidaklah sulit bagi saya.”  

Kata-kata ini sebagai bukti bahwa dirinya mengubah pandangan hidup, dari memperjuangkan hak sipil orang negro ke gagasan internasionalisme dan humanisme Islam. Malcolm X pun mulai meninggalkan ideologi separatisme kulit hitamnya dan beralih ke ajaran Islam yang sesungguhnya. Ia juga mengganti namanya menjadi el-Hajj Malik el-Shabazz.

Kendati berganti nama, Malcolm X jauh lebih populer ketimbang nama barunya. Malcolm menegaskan bahwa kaum Muslim kulit hitam berasal dari leluhur kaum Muslim yang sama. Perjalanan haji, ungkap dia, telah membuka cakrawala berpikirnya dengan menganugerahkan cara pandang baru selama dua pekan di Tanah Suci.  

Baca Juga:  Surat Edaran Kanwil BRI Yogyakarta VIRAL, Banker BRI Rame-rame Resign Karena RIBA

Pada 28 Juni 1964 mendirikan Organization of Afro-American Unity di New York. Melalui organisasi ini, ia menerbitkan Muhammad Speaks yang kini diganti menjadi Bilalian News [Muslim Kulit Hitam].  

Namun, ia tak sempat lama menikmati usahanya dalam memperjuangkan Islam yang lebih baik lagi. Pada 21 Februari 1965, saat akan memberi ceramah di sebuah hotel di New York, Malcolm X tewas ditembak oleh tiga orang Afro-Amerika.

Sebuah kelompok yang dia perjuangkan tentang nilai-nilai dan hak-hak warga kulit hitam. Tak ada yang tahu, apa motif di balik penembakan itu. Tapi, impian Malcolm X untuk menyebarkan visi anti-rasisme dan nilai-nilai Islam yang humanis hingga kini terbilang sangat berhasil.