Benarkah TGB Menggunakan Buzzer Jahat? Oleh: Aditya Aji/Pemain Sosial Media

Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube

Hari ini, saya coba iseng-iseng untuk klik di google dengan kata kunci “buzzer jahat”. Alangkah kagetnya saya menemukan bahwa, di halaman pertama mesin pencarian terbesar di dunia itu dari urutan pertama sampai terakhir isinya adalah berita tentang tuduhan oknum Partai Demokrat yang menyebut TGB memelihara atau menggunakan buzzer jahat di sosial media. Padahal, sampai saat ini, tuduhan itu tidak benar dan memang tidak benar.

Komentar dari oknum petinggi demokrat yang kemudian dimuat di media online tentang tuduhan TGB menggunakan buzzer jahat tersebut bermula saat warga net memenuhi kolom komentar akun FB SBY, AHY, dan DPP Demokrat dengan kata TGB. Setiap kali ada postingan baru dari ketiga akun tersebut, kolom komentarnya selalu dipenuhi oleh warga net yang menyuarakan tentang TGB.

Jika kita cermati dengan seksama, akun-akun yang memenuhi kolom komentar tersebut bukan merupakan akun robot. Itu akun asli dan orangnya ada. Rata-rata berasal dari akun-akun relawan TGB yang tersebar di seluruh Indonesia. Apakah mereka dibayar? Tidak ada yang membayar mereka. Itu semua murni inisiatif dari para relawan yang merindukan sosok pemimpin Indonesia bernama Tuan Guru Bajang (TGB).
Bahkan! Jika kita perhatikan berbagai obrolan di sosmed, tak sedikit para warga net yang berkomentar bahwa mereka akan bersiap mengorbankan waktu, tenaga, fikiran, dan keuangan mereka untuk perjuangan TGB. Apakah ini yang dikatakan sebagai buzzer jahat?

Sebagai masyarakat biasa yang juga penggemar TGB, sayapun sangat tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh oknum petinggi parta berlambang Mercy tersebut. Saya kemudian berdiam sejenak mencoba merenungkan kenapa oknum partai yang dinakhodari mantan presiden RI dua periode, SBY itu sampai tega melontarkan tuduhan jahat seperti itu.

Bukankah TGB juga seorang kader Partai Demokrat? Tak hanya seorang kader biasa. TGB juga merupakan salah satu Majlis Tinggi Partai Demokrat. Bukankah bagus apabila ada kader partai yang namanya selalu disebut-sebut sebagai calon pemimpin Indonesia oleh masyarakat Indonesia? Salahnya dimana? Jahatnya dimana?

Kembali ke masalah mesin pencarian google yang menempatkan tuduhan buzzer jahat kepada TGB. Saya pikir, ini tidak terjadi secara alamiah. Pasti ada kerja yang memang didesain rapi secara profesional menggunakan SEO. Hal ini untuk memframing bahwa TGB benar-benar menggunakan buzzer jahat. Lantas, siapa yang sebenarnya yang jahat? Apakah para relawan yang rindu dipimpin TGB, tak kenal lelah terus menyuarakan TGB sebagai the next Presiden Indonesia ini dikatakan jahat ataukan mereka para oknum yang menuduh TGB menggunakan buzzer jahat? Mari kita berikan publik yang menilai.