Dubes Denmark Pasang Badan Dukung Kebijakan Anies Soal Kawasan Kota Tua Jadi LEZ

LOMBOK GROUP NEWS | Kualitas udara di kawasan Kota Tua Jakarta membaik setelah kebijakan Low Emission Zone (LEZ) atau Zona Emisi Rendah diberlakukan sejak 8 Februari 2021.
“Kalau dari hasil analisis laboratorium, di tanggal 6 dan 7 Februari (sebelum diterapkan LEZ) itu hasil (pengukuran kualitas udara) sedang, tapi waktu tanggal 8 (Februari) itu hasilnya baik,” kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan dan Kebersihan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat Kamin, Senin (15/2/2021).
Tidak hanya berdampak pada kualitas udara, namun menurut peneliti kebijakan LEZ juga dapat mempengaruhi prilaku masyarakat setempat, hal itu disampaikan Duta Besar Denmark untuk Indonesia Lars Bo Larsen melauli video yang diunggah di akun twitternya, Rabu (17/2).
Dalam video yang berdurasi 2.10 detik itu Lars Bo Larsen menyambut baik inisiatif tersebut, ia pun menceritakan kota Copenhagen sebagai kota pertama di dunia yang menerapkan kebijakan di kawasan yang sama.
“Saat Jakarta memperkenalkan Kawasan Rendah Emisi (LEZ) skala kecil di Kota Tua, berikut beberapa pelajaran dari Kopenhagen sebagai ibu kota pertama di dunia yang memperkenalkan Kawasan Pejalan Kaki Rendah Emisi.” Tulis Lars Bo Larsen di akun twitternya @DubesDenmark.
Lebih lanjut Lars menjelaskan, ide kawasan khusus pejalan kaki di Kopenhagen sebelumnya dianggap kontroversial, bahkan arsitek perancangnya harus mendapat pengawalan khusus dari polisi. tetapi sekarang, 9 dari 10 warga Kopenhagen justru ingin area pejalan kaki diperbanyak.
Menurut Lars, perubahan persepsi tersebut terjadi dalam beberapa fase, yaitu diantaranya kawasan tersebut menjadi ramai oleh pejalan kaki atau pengunjung dan konsumen sehingga pendapatan usaha kecil di sekitar pun menjadi meningkat.
Fase selanjutnya yaitu saat para ahli mulai melihat perubahan prilaku masyarakat Kopenhagen saat itu, mereka menjadi lebih banyak berjalan kaki dan lebih memilih bersepeda saat berpergian dan menuju tempat kerja secara rutin dengan menggunakan sepeda.
Sementara fase ketiga adalah hal yang juga dialami di Jakarta yaitu tantangan perubahan iklim global yang dihadapi. Namun dengan tersedianya kawasan rendah emisi di Kota Tua diharapkan dapat menurunkan tingkat emisi karbon sehingga masyarakat dapat ikut berkontribusi dalam memecahkan masalah iklim global dunia.
Dan di fase keempat, menurut Lars berkaitan erat dengan kesehatan seperti yang dihadapi masyarakat saat ini. Dengan berjalan kaki dan bersepeda dapat membuat tubuh sehat dan ibu kota menjadi tempat yang lebih sehat untuk semua. dengan demikian jumlah pasien di Rumah Sakit juga akan menurun.
“Jadi saya sangat mendukung pembangunan kawasan pejalan kaki di area Kota Tua ini” ungkap Lars.
“Saya berharap setelah pandemi berakhir, kawasan ini akan menjadi inspirasi untuk gaya hidup yang baru dan lebih baik di jakarta” tutupnya