• Lombok, Nusa Tenggara Barat

A Thread Untuk Suami: Menikah di usia 23 Tahun, Gue Kira Sebahagia itu | Kisah Nyata




Thread ini dibuat oleh akun twitter @darayoga_ berdasarkan kisah nyata dalam kehidupan rumah tangganya, tweet ini disukai 70,4ribu, direply 1,7ribu netijen dan di Retweet sebanyak 49ribu kali. berikut threadnya:

menikahi perempuan
– pemarah
– cemburuan
– suka ngatur
– ga percayaan
– demanding

menikah di usia 23 tahun, gue kira sebahagia itu
tapi…

a thread
waktu nikah di 2015, gue dan @miamulyas, sudah saling kenal selama 7 tahun, kita kenalan 2008, pertama jadian 2008, sempet putus nyambung, lost contact, sampai akhirnya nikah, kenal selama itu, gue kira udah mengenal calon istri gue waktu itu. “7 tahun, kurang tahu apa lagi sih?’

waktu baru kenal dan pacaran, Mia orangnya pendiem, kayaknya kalem gitu, tipe2 yg gak akan pernah bisa marah deh, siapa yang gak mengidam-idamkan coba? tapi setelah menikah, beda cerita, jadi meski kalian kenal bertahun-tahun sama pasangan, pas nikah SANGAT MUNGKIN semua berbeda.

sebelum menikah, kita tanpa sadar belajar soal hidup berumah tangga dgn melihat orang terdekat kita, yg paling dekat: orang tua. bayangan paling standar “enak ya nanti kalau udah nikah, pulang kerja ada yang nyambut, sayang-sayangin.”
cewek juga mungkin punya bayangan sendiri.

memang harapan yang paling bisa bikin kita terbang tinggi dan paling bisa buat kita jatuh lebih sakit lagi

punya harapan sebelum menikah, tapi pas udah nikah, harapan juga yang jadi ‘orang ketiga’
kadang bikin kita gak bisa menerima pasangan seperti semestinya.

tahun-tahun pertama pernikahan dihiasi dengan banyak konflik
“kok gak seindah yang di film-film ya?”
pertikaian yang disebabkan tidak bisa mengerti pasangan,
dan kita menuntut pasangan untuk mengerti kita
bahkan kita untuk mengerti diri sendiri saja belum bisa.

Baca Juga:  Kisah Nyata Dhena Fadhilah: Seberapa Miskin Kamu?

benar kata orang, jodoh itu bukan dicari tapi dijebak
waktu kenal dan pacaran, the best part of us yang ditunjukkan
tapi saat sudah menikah, the real us perlahan terlihat

cinta didapat dengan perhatian,
dirawat dengan pendapatan dan pengorbanan.

belum selesai mengelola konflik diri sendiri dan konflik dengan pasangan, kami alhamdulillah dikaruniai anak kembar, Jio dan Kio. langsung 2 anak, dan membesarkan tanpa pengasuh (atas kesepakatan bersama)
kebayang kan ngurus anak 1 aja gimana, ini langsung 2

di sela-sela kelelahan mengasuh 2 anak, waktu pulang kerja jadi sensitif banget
gue orangnya cukup males ngomong
tapi setiap pulang diwajibkan untuk cerita
kalau gue ketiduran, bisa jadi ribut besar
gak peduli perjalanan gue ke tempat kerja sebalik aja 3 jam.

hal paling menyiksa adalah kita gak diperkenankan untuk sharing ke mana pun ketika ada masalah
semua masalah ditelan dan dihadapi berdua
ini pun gue cerita karena udah izin dan semoga bisa jadi pelajaran.

semua pertanyaan berputar di kepala
“kenapa sih dia begini?”
“kenapa sih dia begitu?”
“kenapa tidak seindah itu?”

sampai suatu hari gue gak sengaja dengar bapak-bapak tua bicara di telepon, sepertinya sedang menasihati anaknya.

“bagi pria, ketika memutuskan untuk berkeluarga, artinya dia sudah memutuskan bahwa hidup ini bukan lagi tentang dirinya,” katanya
*deg*
selama ini gue menuntut untuk terpenuhinya kebutuhan gue
“kenapa sih dia…” “kenapa sih dia…”
bukannya bertanya “kenapa sih gue…”

gue duduk terdiam. terpaku bersandar ke kaca jendela bus.
terlempar memori-memori saat indahnya ijab kabul.
gue telah lupa bahwa ijab kabul itu sakral. ada hal yang sangat dalam terjadi:
saat ijab kabul, suami mengambil tanggung jawab ayah sang istri
itu hal besar.

Baca Juga:  Herbert Eks Pegawai KPK Kini Jualan Online dan Usaha Pelihara Kambing Kecil-kecilan

sebelumnya:
Mia menggantungkan hidup, hati, dan kebahagiaannya kepada ayahnya
sekarang:
ia menggantungkan semuanya pada gue, suaminya
suami macam apa yang mementingkan kepentingannya sendiri?!

dari situ gue sadar
Mia selalu marah saat gue meminta bangun siang/tidur siang saat weekend
karena momen bersama ayahnya meski untuk sekadar membetulkan selang mampet begitu berharga
Mia ingin anak2 juga punya momen Sabtu dan Minggu bersama ayah, yang membekas dalam ingatan

Mia selalu cemburu ketika gue terlalu sibuk dengan kerjaan, hobi
akhirnya gue selalu melibatkan mengajak istri dan anak-anak saat gue melakukan hobi,
atau seringnya, anak2 yang bersenang2, ayah bundanya nemenin.

percayalah, saat punya anak,
waktu terasa begitu cepat
ngelihat foto yang baru berlalu 2 tahun aja rasanya pengen mewek
merasa masih kurang banget memberikan perhatian waktu ke istri dan anak-anak
sekarang tau-tau udah pada gadis aja 😢
gue gak mau tua nanti gue menyesal.

Mia juga selalu marah saat gue terlalu cuek dengan keadaan sekitar
selalu nuntut gue untuk supel dan buka obrolan dengan orang-orang, siapa pun itu, atasan, satpam, tukang nasi goreng
dan gue pernah dapet rejeki tak terduga dari ‘berusaha supel’ ini.

sama halnya seperti Peter Parker yang digadang-gadang jadi ‘The Next Iron Man’, istri juga punya harapan yang besar terhadap suaminya
gak peduli seorang suami dan ayah sudah siap atau belum
ketika kamu berkeluarga, kamu DIANGGAP SUDAH siap
the pressure is there..

karena sebagai suami dan ayah, adalah harapan terbesar keluara, istri pasti menuntut banyak hal agar sang kepala keluarga bisa berwibawa, jadi panutan
dan ketahuilah, GAK AKAN PERNAH ADA istri yang mau suaminya jelek
suami juga harus seperti itu ke istrinya, kenapa?

Baca Juga:  Nasib Sang Raja OTT Harun Al Rasyid Setelah Dipecat Dari KPK

istri akan
cantik terus
senyum terus
nenangin dan hangatin keluarga terus kalau dibahagiain terus
dan gak ada sedekah yang lebih afdol dibanding menafkahi dan membahagiakan istri.

dan akhirnya gue sadar, kenapa pernikahan gue dan Mia gak selalu manis, tapi banyak pahit-pahitnya
karena gue sadar dalam pribadi gue masih banyak penyakit
dan seperti pahitnya obat, semoga konflik yang pernah terjadi bisa mengobati
MENDEWASAKAN..

Mia butuh orang yang mau dengerin segala protesnya dia (karena dia ternyata orangnya tukang protes wkwk)
dan gue ternyata butuh orang yang punya keberanian buat ‘ngebenerin’ gue, karena selama ini gak pernah ada yang berani/mungkin gak enak aja
makasih ya, kamu, @miamulyas.

ketika kita ditanya siapkah berumah tangga, kita bisa saja menjawab “siap”
kenyataannya, saat menjalani dan tersandung untuk pertama kali, kita sadar bahwa kita memang tidak akan pernah siap.

temukanlah ia, bukan yang sempurna bagi semua
bukan pula yang menuntut kamu jadi sempurna
tapi yang selalu tau, bahwa kamu lebih baik dari itu.

thread ini aku persembahkan untuk istriku yang selalu mengingatkan bahwa saling bercerita adalah cara digdaya untuk memelihara cinta
berbahasa kata dalam tatap mata adalah cara untuk tetap waras di tengah rutinitas yang keras

24 Juli esok,
selamat ulang tahun, Mia

Original Thread: