Laskar FPI Ditembak Mati, Syeikh Ali Jabeer: Mari Rapatkan Shaf

Ulama besar Syekh Ali Jaber serukan umat muslim rapatkan syaf setelah Laskar FPI ditembak mati polisi. Syekh Ali Jaber mengecam aksi penembakan polisi ke anak buah Habib Rizieq itu.
Syekh Ali Jaber menyatakan berduga cita ke keluarga besar FPI. Khususnya ke Habib Rizieq Shihab.
“Saya turut berduka cita kepada keluarga besar FPI, khususnya guru Habib Muhammad Rizieq Shihab dan keluarga saudara-saudara kami yang ditembak mati,” kata Syekh Ali Jaber dalam channel Youtubenya.
Syekh Ali Jaber mendoakan laskar FPI ditembak mati polisi diterima di sisi Allah sebagai pejuang Islam atau syuhada.
“Jangan sampai terpancing emosi dan fitnah yang lebih besar. Mari sama-sama menyatukan dan merapatkan shaf mencari solusi dengan dialog. Jangan insiden ini membuat masyarakat kebingungan.
Semoga kejadian ini bisa terbongkar motifnya dan menjalankan hukum seadil-adilnya serta tidak terulang lagi,” kata Syekh Ali Jaber.
Syekh Ali Jaber juga mendesak kepolisian mencari fakta penembakan laskar Habib Rizieq itu.
“Penegak hukum bisa menjalankan hukum yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya terhadap orang yang terlibat dalam kasus ini. Mudah-mudahan tidak terulang lagi,” kata Syekh Ali Jaber.
Selain Syeikh Ali, Sejumlah pihak lain juga meminta agar kepolisian harus bisa mengusut tuntas kematian enam orang yang tertembak mendampingi perjalanan rombongan Rizieq Shihab secara transparan dan independen.
Dr Ian Wilson, dosen senior di Murdoch University, Australia Barat mengatakan kepada ABC Indonesia jika peristiwa penembakan tersebut sebagai “extrajudicial killing” atau pembunuhan di luar hukum oleh polisi.
“Saya rasa akan banyak dari pendukungnya yang melihatnya jika ada atau akan ada upaya dari otoritas untuk mengancam keselamatan Rizieq,” ujar Ian yang pernah menulis buku soal jatah preman di Indonesia di tahun 2018 lalu.
“Enam pria muda yang meninggal pada dasarnya adalah korban dari extrajudicial killing,” tambahnya.
Dr Ian mengatakan meski ada perbedaan keterangan soal siapa yang mulai melakukan penyerangan, namun peristiwa penembakan tersebut dikhawatirkan akan semakin meningkatkan ketegangan dan “berbahaya secara politik”.
Karenanya, Ian mengatakan pendekatan yang dilakukan Pemerintah Indonesia nantinya akan menjadi “tes sesungguhnya” soal kemampuan dalam mengatasi FPI, tanpa membuat lebih banyak konflik.
Sejumlah pengamat telah menjelaskan bagaimana sosok Rizieq yang banyak dimaki, namun menarik banyak simpati.
“Rizieq adalah sosok pahlawan dan perjuangan bagi sejumlah orang, khususnya di kalangan pemuda di Jakarta,” jelas Dr Ian.
“Saya rasa ini harus menjadi bagian dari strategi penanganan untuk meminimalkan konflik dan menenangkan, serta tidak memperkuat pengaruhnya.”
Hal yang sama juga dikatakan oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Korban Kekerasan (KontraS) dalam pernyataannya yang dikeluarkan Senin malam kemarin.
“Pasalnya secara kepemilikan senjata, kepolisian jelas lebih siap,” ujar Rivanle Anandar, wakil koordinator bidang riset dan mobilisasi KontraS.
“Dan juga penggunaannya [senjata api] tidak boleh mematikan dan tidak boleh sewenang-wenang.”
KontraS mengatakan dari hasil pemantauannya selama tiga bulan terakhir ada 29 peristiwa pembunuhan di luar hukum yang mengakibatkan 34 orang tewas.
KontraS mengatakan Polri harus usut tuntas kematian enam orang tersebut secara “transparan dan akuntabel”.
Hal yang sama juga dinyatakan oleh Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia yang meminta agar polisi melakukan penyelidikan dengan “terbuka dan transparan”.
“Insiden tersebut harus diselidiki secara independen dan jika petugas polisi melanggar standar internasional terkait penggunaan kekuatan dan senjata api, mereka harus dibawa ke pengadilan.”