• Lombok, Nusa Tenggara Barat

Riwayat Singkat Perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid


Riwayat Singkat Perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Periode II : Tahun 1945 – 1949
(Periode Revolusi Kemerdekaan)

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, yang kemudian diikuti dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1945, disambut masyarakat Lombok, termasuk TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid dengan jajaran santri dan jamaahnya. Meskipun informasi mengenai kemerdekaan ini baru diterima masyarakat Lombok, pada bulan Oktober 1945.

Paska berita kemerdekaan, penyerangan pos militer Jepang berlangsung, termasuk di Lombok Timur dengan aksi penyerangan camp militer Jepang di Labuhan Haji pada penghujung tahun 1945. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid turut serta menyiapkan barisan para santri dan jamaahnya untuk ikut melakukan penyerangan yang dipimpin Sayid Saleh.

Kekalahan Jepang yang kemudian berbuah proklamasi kemerdekaan RI, tidak berlangsung lama dinikmati di Lombok. Sebab, pasukan Australia yang merupakan bagian dari pasukan Sekutu, justru membawa kepentingan Hindia Belanda untuk menancapkan kembali kekuasaannya, yakni dengan hadirnya pasukan Hindia Belanda dengan berkedok NICA (Nederlandsch Inde Civil Administratie), yakni pemerintahan administrasi sipil. NICA memulai kekuasaannya dengan menangkap para pejuang dan pemimpin daerah, hal ini disambut dengan pembentukan laskar-laska perjuangan rakyat, yang bergabung bersama Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian dirubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga mendirikan Laskar “al-Mujahidin” yang kemudian menunjuk adik kandungnya TGH Muhammad Faisal sebagai pemimpin.

Baca Juga:  Al Rayyan Dziki Nugraha Bocah 10 Tahun Rawat Ibunya Sendiri Di Rumah Sakit

Laskar al-Mujahidin terdiri dari para santri Madrasah NWDI dan jamaah pengajian TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Laskar ini bersatu bersama laskar-laskar rakyat lain seperti Laskar Banteng Hitam, yang kemudian berujung pada penyerangan Tangsi Militer “Brigade Y” NICA di Selong Lombok Timur.

Penyerangan ini berlangsung tanggal 7 Juni 1946 tengah malam hingga tanggal 8 Juni 1946 dini hari. Aksi ini berakhir gagal, tujuh pejuang gugur, termasuk TGH Muhammad Faishal, yang merupakan adik kandung TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Saat ini, makam para pejuang yang gugur ini berada dalam kompleks Taman Makam Pahlawan Nasional Rinjani Lombok Timur.

Aksi penyerangan ini membuat pemerintah pasukan NICA kian agresif, dilakukan penangkapan besar-besaran para tokoh dan pejuang republik yang ada di Lombok, termasuk santri dan keluarga TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga ikut ditangkap dan dipenjarakan NICA, diantaranya H Ahmad Rifa’i (adik kandung TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) yang dibuang ke penjara Ambon Maluku, HM Yusi Muhsin Aminullah (pimpinan Santri) di penjara di Praya, dan santri lain, bersama pejuang lain dari sejumlah kelompok perjuangan dikirim ke sejumlah penjara lain seperti Bali dan daerah lainnya. Dua madrasah yang didirikan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yakni Madrasah NWDI dan Madrasah NBDI ditutup pemerintah kolonial.

Madrasah NWDI dan Madrasah NBDI kembali diizinkan beroperasi setelah NICA benar-benar meyakini telah menguasai situasi politik di Lombok. Penyerangan ini merupakan akhir dari perjuangan fisik bersenjata di Lombok.

Baca Juga:  Munarman Ditangkap Polisi, Warga Kristen Ini Angkat Bicara: Gereja Terbesar di Cinere Berdiri Karena Dia

Paska penyerangan Tangsi NICA, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tetap menanamkan dalam setiap dakwahnya saat berkeliling ke desa-desa bahwa semboyan  “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.

Selain itu, salah satu yang menonjol yang dilakukan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sejak memulai aktifitas Madrasah NWDI adalah bagaimana memperkenalkan bahasa Indonesia dan semangat kebangsaan melalui lagu-lagu perjuangan yang diciptakan. Sehingga menjadi media baru dalam pengenalan bahasa dan semangat kebangsaan di tengah masyarakat.

Hindia Belanda kemudian memulai strategi pecah belah dengan Konferensi Malino yang digelar sebulan paska penyerangan Tangsi NICA di Selong. Dan paska Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946, pemerintah Hindia Belanda kian agresif. Bahkan kemudian bersama mendeklarasikan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan memanfaatkan sisa kekuasaan feodal yang ada di daerah-daerah.

Baca Juga:  Sosok Al-Mahsyar, Pendiri Kelompok Musik PELITA HARAPAN Dan Sekolah Tunanetra Al-Mahsyar

Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan isi perjanjian Linggarjati, yakni antara lain berisi pengakuan Hindia Belanda terhadap wilayah RI di Jawa, Sumatera dan Madura, serta kesepakatan membentuk Negara Indonesia berbentuk federasi atau serikat.

Disisi lain, disaat yang sama TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid kian mengokohkan posisi dan barisannya bersama para pejuang lainnya. Salah satunya dengan tokoh muda nasionalis Saleh Sungkar, salah satunya dengan mendirikan Persatuan Umat Islam Lombok (PUIL). Melalui organisasi ini TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid melakukan aktifitas politik kebangsaan, termasuk meneruskan propaganda para mukimin Indonesia di Mekkah, dalam menentang Hindia Belanda usai menjalani Misi Kehormatan Haji ke Tanah suci Mekkah penghujung tahun 1947… Lanjut ke Halaman 3.