Teroris Indonesia Fakta Atau Fiksi? Ini Kata Letkol TNI (Purn) Petrus Sunyoto

LOMBOK GROUP NEWS | Aksi teror di Indonesia kembali ramai diperbincangkan rakyat Indonesia, hal tersebut lantaran dua peristiwa teror yang terjadi baru-baru ini.
Peristiwa pertama, aksi teror teror bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Ahad (28/3/2021). Selanjutnya, aksi teror kedua terjadi di Markas Besar Polisi Republik Indonesia sekitar pukul 16:30 WIB, Rabu (31/32021).
Kedua peristiwa yang terjadi secara berluntun itu cukup menggemparkan Indonesia, beragam isu terkait peristiwa tersebut pun menyebar dengan cepat di beberapa media.
Tim lombok group news mencoba menelusuri artikel-artikel terkait yang membahas soal isu teroris dan menemukan salah satu catatan menarik dari sesesorang bernama Bambang Widianto.
Bambang Widianto dalam tulisannya yang diunggah di Kaskus.co.id menyebutkan bahwa beberapa tahun lalu ia pernah ngobrol santai dengan Letkol TNI (Purn) Petrus Sunyoto, Kopassus yang pernah meraih penghargaan dari Presiden RI sebagai Prajurit Terberani TNI.
“Di dinding kantornya banyak piagam-piagam penghargaan khususnya yang berkaitan dengan pelatihan anti teror di berbagai negara. Bahkan ada piagam untuk beliau dari Green Baret USA sebagai instruktur strategi perang gerilya.” tulis Bambang
Melihat piagam-piagam yang banyak itu membuat Bambang terkagum-kagum kepada perwira Kopasus tersebut. Piagam-piagam itu juga mengusik pikiran Bambang untuk bertanya banyak hal, terutama terkait soal apakah benar ada teroris di indonesia ini? Karena Letkol Petrus adalah termasuk pasukan yang pertama dilatih sebagai pasukan anti tetor.
“Tidak ada itu teroris di indonesia. Yang ada adalah orang-orang yang marah karena sakit hati kepada pemerintah, yang tidak tahu harus mengadu kemana lagi karena selalu dicuekin (tidak dimuliakan).” ujar Letkol Petrus Sunyoto seperti yang ditirukan Bambang dalam tulisan tersebut.
“Di TV dan media lainnya disajikan berita-berita penangkapan teroris. Letkol itu tersenyum atas bantahan saya tersebut. Seraya menjelaskan bahwa penangkapan teroris tidaklah seperti yang ada di media dan TV.” lanjut Bambang.
Letkol Petrus Sunyoto mengatakan bahwa protap penanganan teroris tidak seperti itu, Semuanya harus senyap. Sebagai contoh adalah operasi penangkapan Osama. Kapan operasinya? Siapa yang beroperasi? Mana mayatnya? Semuanya senyap!
Bambang lalu bertanya, kenapa operasi anti teror di Indonesia itu heboh? Bahkan ada yang diliput live oleh media. Dia kembali tersenyum, itu bukan operasi anti teror, itu operasi PENCITRAAN, atau operasi PENGALIHAN ISSU, atau operasi dengan MISI TERTENTU” tegas Letkol Petrus.
Masih dalam tulisan Bambang di Kaskus.co.id dimana diterangkan bahwa operasi penanganan yang dilakukan kepada teroris adalah bukan dari kopassus, Kemudian Petrus bertanya kepada bambang, kenapa pasukan anti teror itu bukan kopassus? Kan, Koppasus yang paling ahli menangani teror? Saat itu Bambang geleng kepala dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Petrus melanjutkan penjelasannya, bahwa menurut Petrus kalau Kopassus atau TNI lain yang disuruh menangani anti teror maka kesatuan itu tak bakal mau disuruh-suruh merekayasa. Makanya yang ditugasi adalah kesatuan yang mau disuruh-suruh merekayasa, jelasnya.
“Sayang, tahun 2014 yang lalu Letkol TNI (Purn) Petrus Sunyoto dipanggil Yang Maha Kuasa, Inna LILLAAHI wainna ilaihi rojiun. Selamat jalan komandan, banyak kisah-kisah yang engkau ceritakan ke saya yang masih melekat di benakku. Engkau adalah pelaku sejarah yang selalu kukagumi.” demikian tulis Bambang.