Diduga Mengadu Domba Ummat Islam, Film ‘My Flag-Merah Putih VS Radikalisme Rilisan Kanal YT NU Dikecam Publik Hingga Ulama’

Film berjudul “My Flag-Merah Putih Vs Radikalisme” menuai kontroversi. Film pendek yang dirilis di Kanal YouTube Nahdlatul Ulama (bukan akun resmi PBNU) pada Jumat (23/10) sejatinya dirilis untuk merayakan Hari Santri Nasional yang jatuh pada Kamis (22/10).
Sayangnya, konten dalam film tersebut dinilai banyak mengandung konten yang berpotensi mengadu domba sesama umat Islam. hingga akhirnya, kanal youtube milik NU itu mendapatkan banyak kritik hingga unlike massal dari warganet.
Film yang dibintangi oleh Gus Muwaffiq tersebut justru dianggap memecah belah ummat. Film tersebut diunggah pertama kali sejak 22 Oktober 2020 di kanal youtube NU.
Warganet menganggap film yang sedianya mengangkat nasionalisme dan melawan radikalisme itu justru tampak menyudutkan ummat muslim lain dan berpotensi menimbulkan perpecahan.
Pantauan kami, isi komentar di kanal youtube itu justru menyesalkan adanya film pendek tersebut, termasuk narasi-narasi yang ada di dalamnya yang dianggap menyudutkan dan bisa memecah belah sesama muslim.
Dalam salah satu potongan film, digambarkan sekelompok pemuda muslim terlibat perkelahian dengan kelompok muslim lain.
Satu kelompok digambarkan sebagai santri nasionalis dan kelompok lain dituding sebagai pengasong bendera selain merah-putih.
Adapula adegan dua orang perempuan berkelahi dan melepas paksa cadar seorang perempuan lain, kemudian cadar itu dibuang.
Beberapa Pada plot inilah yang banyak dipermasalahkan.
Bersamaan dengan adegan bertarung, seorang perempuan membacakan narasi, “Cinta itu perduli dan berbagi. kepedulian dan pengorbananmu menentukan seberapa dalam cintamu. Tak boleh ada bendera selain merah putih di negeriku. Merah Putih harga mati.”
Sementara itu, Gus Muwaffiq dalam film itu berkata, “Selagi bangsa ini tetap berdiri, Negara tetap berdiri, maka benderanya adalah Merah Putih.”
“Jadi jangan pernah ditipu, oleh pengasong-pengasong bendera yang lain.”
“Silahkan mengasong bendera tapi jangan menandingi Merah Putih. Karena kalau bendera kamu tandingi bendera merah putih, maka yang berjiwa merah putih pasti akan turun menghancurkan engkau
Tokoh Muhammadiyah, Hidayat Nur Wahid bahkan turut mengkomentari film itu.
Meskipun ditayangkan di channel NU, Hidayat Nur Wahid masih berpandangan positif film itu tidak mewakili NU.
Saya yakin itu bukan filmnya NU. Karena NU pasti tau, menurut Pancasila dan UUD 45 yang jadi lawan Merah Putih itu Radikalisme Komunisme (benderanya Palu Arit), Separatisme (bintang kejora). Adapun “cadar” ,itu masih bagian dari fiqh Sunni. Tolak radikalisme, jangan terlena dan pecahbelah Umat,” tulis Hidayat Nur Wahid di akun Twitternya. (dikutip dari Wartakotalive.com. Editor: Feryanto Hadi)
Tak hanya itu, Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang, KH Luthfi Bashori juga mengomentari bahwa konten film tersebut sangat merendahkan aqidah. dan menyebutnya sebagai aqidah rembes.
“Orang yang memusuhi dan anti syariat bercadar bagi wanita muslimah itu karena aqidahnya rembes dan belekan,” kata Kiai Luthfi pada Kantor Berita RMOLJatim, Senin (26/10).
Lanjut Kiai Luthfi, aqidah rembes bisa dikemas dalam ceramah ataupun tulisan.
“(Aqidah rembes) entah itu disampaikan dalam ceramah atau dalam tulisan, atau dikemas dalam film sekalipun,” ungkapnya.
NU sendiri, tambah Kiai Luthfi, mengakui bahwa cadar termasuk ajaran syariat. Kiai Luthfi lantas mengutip salah satu tulisan di NUOnline di mana Syekh Syarqawi menulis “Adapun aurat perempuan di luar shalat dari sisi pandangan laki-laki lain terhadap dirinya adalah seluruh badannya, sampai wajah dan kedua telapak kakinya.”
“Di sini jelas, maka siapapun yang menghina cadar hukumnya adalah murtad,” sebut Kiai Luthfi.
Kiai Luthfi tidak memungkiri bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian mereka menghukumi bahwa wanita muslimah itu wajib bercadar.
“Karena bercadar itu dapat menutupi wajah yang seiring dengan kewajiban menutupi seluruh tubuh bagi wanita muslimah. Dan sebagian lainnya memghukumi bahwa bercadar itu hukumnya sunnah,” tuturnya.
“Tapi tetap saja, dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama ini tidak mengeluarkan status bahwa cadar adalah bagian dari ajaran Syariat Islam,” tandasnya.
Sementara dari sumber lain, salah satu Cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Wahab Chasbullah, yaitu Agus Solachul Aam Wahib alias Gus Aam menilai Penceramah sosok seperti Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq merupakan salah alat adu domba umat muslim.
Pernyataan Gus Aam tersebut menanggapi kontroversi isi ceramah yang disampaikan oleh Gus Muwafiq yang viral di media sosial beberapa waktu lalu.
Gus Aam bicara demikian dalam acara peringatan Maulid Nabi di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Minggu (29/12).
“Banyak kejadian seperti itu, sebagai contoh paling baru Pak Muwafiq itu sebenarnya mainan yang istilahnya, ada orang yang biayai dia, dia ngomong seperti itu. Padahal Muwafiq ini bukan apa-apa, kyai enggak, gus enggak. Jadi akhirnya ribut padahal itu mainan mereka-mereka itu kita diadu domba,” ujarnya