Kartun Nabi, KH. KH Cholil Nafis: Pemerintah Perlu Putus Hubungan Diplomatis Dan Dagang Dengan Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron kembali membuat kontroversi mengenai Islam dan Muslim. Macron disebut telah menyerang dan melukai Muslim dunia lewat pernyataannya.
Macron memang sudah memicu kontroversi sejak awal bulan ini. Ia mengatakan “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.”
Belum lama ini, seorang guru di Prancis dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas yang sedang ia ajar, seraya berbicara soal kebebasan. Menanggapi insiden tersebut, Macron berujar sang guru “dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita.”
Dalam kepercayaan Muslim, Nabi tidak boleh digambarkan seperti manusia, karena hal tersebut adalah bentuk penghinaan. Bahkan hal tersebut dianggap menghina dan bisa menghadapi hukuman mati di Pakistan.
Penghinaan Macron terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW memicu kemarahan negara-negara Islam. Bahkan, sejumlah negara telah mengeluarkan sikap tegas dengan memboikot produk-produk Prancis.
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis mengatakan, jika Marcon tidak segera menarik ucapannya yang menyinggung umat Islam di seluruh dunia maka Pemerintah Indonesia dan umat Islam juga harus menyampaikan protes, serta memutus hubungan diplomatis dan bisnis dengan Prancis.
“Pemerintah Indonesia saya pikir perlu untuk memutus hubungan diplomatis dan hubungan bisnis sebagaimana dilakukan negara-negara Islam lainnya sebagai bentuk protes tentunya,” ujarnya ketika dihubungi media, Selasa (27/10/2020).
Cholil Nafis mengatakan, protes keras tersebut diperlukan selama Prancis masih mengibarkan permusuhan terhadap agama yang dipeluk mayoritas masyarakat di Indonesia.
Menurutnya, siapapun dan apapun yang menghina Alquran dan Nabi pasti akan berujung pada keributan.
“Di beberapa peristiwa baik di dalam negeri maupun di luar negeri, itu ribut. Termasuk sekarang yang dilakukan oleh Macron, makanya menyulut kemarahan dunia. Maroko memboikot, Qatar memboikot, Aljazair memboikot. Dan itu prinsipnya di dalam kita pun mestinya tidak boleh menghina agama lain,” tuturnya.