• Lombok, Nusa Tenggara Barat

Minta Pakai Jilbab Dulu: Ini Cerita Istri Jumhur Hidayat (Anggota KAMI) Saat Terjadi Penangkapan Suaminya Oleh POLISI




Sekitar jam 07 pagi Selasa (13/10) sejumlah polisi berpakaian preman merangsek masuk ke rumah Jumhur Hidayat sampai ke kamar tidurnya.

Kepada ABC News Australia, istri Jumhur, Alia Febiyani mengatakan, ada hampir tiga puluh orang berpakaian hitam dan putih dan bercelana jeans yang masuk ke rumahnya pagi itu.

“Rumah kan tempat keluarga, ada anak-anak, tapi mereka memaksa masuk begitu saja, bahkan nggak mau menunggu, padahal saya bilang saya sedang mau pakai jilbab dulu,” tutur Alia.

“Kesel banget mereka nggak taat aturan protokol kesehatan. Sempet saya tegur, ‘Kalian semua masuk-masuk kamar orang begini sudah pada diswab belum? Lagi pandemi begini?’,” tambah Ibu empat orang anak ini.

Baca Juga:  Aktivis Dipermalukan, Diborgol Bak Kriminal Bukti Rakyat Dan Demokrasi Dihina

Selain menganggap proses penjemputan yang berlebihan, Alia juga sempat mempertanyakan surat penahanan dan penggeledahan yang dilakukan orang-orang yang belakangan diketahui sebagai polisi.

“Kalau ngomong baik-baik bilang mau jemput juga berangkat kok, nggak perlu datengin sampai 30 orang gitu kali, … ini kayak mau nangkep teroris saja,” kata Alia kepada Hellena Souisa dari ABC News.

“Saat saya tanya surat penangkapan, dijawab ‘ada’, tapi nggak diberikan kepada saya pagi itu. Surat penangkapan baru saya terima sore hari ketika saya ke Bareskrim untuk mengambil HP dan beberapa gadget lainnya,” ujar Alia.

Pagi itu menurut Alia, selain menjemput suaminya, polisi juga menggeledah rumahnya dan membawa delapan gadget dari sana berupa telepon genggam, laptop, komputer tablet, dan ‘motherboard’ komputer.

Baca Juga:  Penangkapan Aktivis KAMI Dan Kematian 6 Laskar FPI Sinyal Berakhirnya Era Reformasi

“Termasuk punyanya anak-anak, jadi mereka kemarin tidak sekolah karena masih ‘school from home’ [sekolah di rumah], sementara laptopnya dibawa polisi,” kata Alia.

Alia juga mempertanyakan penggeledahan yang dilakukan di rumahnya, karena sesuai surat penangkapan yang akhirnya ia peroleh, hanya tercantum poin “penggeledahan badan/pakaian tersangka”.

Kini, ia dan keempat anaknya masih harus menunggu kapan pastinya Jumhur akan kembali ke rumah.

“Kemarin surat penahanannya untuk dua hari, semalam telepon katanya akan ada surat penahanan untuk dua puluh hari,” ujar Alia.

“Tapi selama saya tahu suami saya ada di mana dan bagaimana dia diperlakukan, saya sudah tenang. Mungkin hanya sedikit khawatir karena Akang (panggilan Jumhur) sedang masa pemulihan setelah operasi pengangkatan batu empedu, baru pulang ke rumah hari Minggu malam,” tambahnya.

Baca Juga:  [VIRAL] Calon Bupati Asal PDIP Ini Sebut 'Kerudung Panjang Cuma Untuk Membohongi'

Jumhur Hidayat dikenal sebagai aktivis ’98 jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah menduduki jabatan sebagai Kepala BNP2TKI (sekarang BNPMII) di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia sempat menjadi salah satu pendukung Joko Widodo pada Pemilu tahun 2014, sebelum menjadi salah satu anggota KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) yang dideklarasikan Agustus lalu.

Lihat Artikel Asli >>>