• Lombok, Nusa Tenggara Barat

Phobia Sebutan ‘KHILAFAH’ Dan Kebangkitan Islam Sudah Terjadi Sejak Pemerintah Kolonial


Phobia Sebutan ‘KHILAFAH’ Dan Kebangkitan Islam Sudah Terjadi Sejak Pemerintah Kolonial

Kisah Pemerintah Kolonial Kala Phobia Pada Sebutan Khilafah
Src: Republika.co.id

Contohnya tatkala Basiret, surat kabar yang terbit di İstanbul, menulis artikel bertanggal 9 Juli 1873 yang memberitakan bahwa Khilāfah akan mengirim delapan kapal perang ke Sumatera, berita ini dikutip oleh Reuters, agen berita dari Inggris dan informasinya sampai ke Penang.

Walaupun berita tersebut di kemudian hari tidak bisa dibuktikan kebenarannya, seorang Aceh yang kebetulan berada di Penang terlanjur menyampaikan berita tersebut kepada khalayak Aceh sehingga menghebohkan seluruh nanggroe.

Pengaruh Khilāfah ‘Uṡmāniyyah di Aceh ketika masa-masa perang melawan Belanda (1873-1903) begitu kuat, sebagaimana perkataan orang-orang Aceh kepada seorang pedagang Prancis pada tahun 1875, bahwa banyak pemimpin mereka telah memutuskan untuk tidak pernah berhenti berperang sampai Khalīfah sendiri turun tangan untuk menyelesaikannya.

Baca Juga:  Hari Santri Nasional Dan Resolusi Jihad: Ust. Felix Siauw

Sentimen keterikatan dan harapan akan bantuan dari Khilāfah ‘Uṡmāniyyah bahkan meluas hampir ke seluruh kawasan di Hindia Timur, sebagaimana yang Göksoy paparkan,

  • Not only the Acehnese but most people in the region believed that the Ottomans might intervene. When Snouck Hurgronje, the Advisor on Native Affairs to the colonial government, was instructed to investigate the repercussions of the war in Java and Singapore, he found even in West Java many religious and secular leaders very symphathetic to Aceh. Although he himself did not seriously contemplate Ottoman intervention, he found a widespread belief in Java as well as Singapore that the Ottoman Empire had the right and the strength to intervene if it wished, since Aceh was under its protection. 

Terlepas dari semua euphoria tersebut, pada akhirnya – sebagaimana sindiran Jan Schimdt, apa yang dilakukan Pan-Islamisme ‘Uṡmāniyyah di Hindia-Belanda?

Baca Juga:  10 Ulama Besar yang Dipenjara dan Dikriminalisasi Penguasa

Selain secara umum membantu membangkitkan perasaan keislaman yang begitu luas sebelum berkembangnya gerakan nasionalisme, sangat sedikit aksi nyata yang telah Khilāfah ‘Uṡmāniyyah lakukan di Hindia-Belanda:

Tidak ada kapal perang Khilāfah ‘Uṡmāniyyah yang pernah sampai di pantai Aceh ketika berkecamuk perang dari 1873 sampai 1903, dan ketika ada warga Belanda yang tinggal di wilayah ‘Uṡmāniyyah toh mereka tidak pernah terkena boikot.

Hal ini dapat dimaklumi karena selain Khilāfah ‘Uṡmāniyyah sudah melemah semenjak abad ke-19, politik luar negerinya pun sudah mulai terbatas semenjak Khilāfah ‘Uṡmāniyyah meninggalkan Islam sebagai dasar hubungan internasional.

Sebagai gantinya, mereka menganut sejumlah hukum Eropa dalam kerangka hubungan internasional pada 1856,7 yang berarti Khilāfah ‘Uṡmāniyyah tidak bisa ‘ikut campur’ sedemikian bebasnya untuk urusan Hindia Timur yang dikuasai Pemerintah Kolonial Belanda.

Baca Juga:  Shinta Akui Laporan Keuangan Yang Beredar Itu Benar Milik GAR-ITB

Ironisnya lagi, yang pada akhirnya meruntuhkan dominasi kolonial atas kaum Muslim di Hindia-Belanda bukanlah – setidaknya, bukan yang utama – semangat persatuan Islam yang diilhami dari gagasan Khilāfah ‘Uṡmāniyyah, melainkan satu gagasan yang justru lahir dari rahim Barat, apalagi kalau bukan nasionalisme.

Padahal, di tahun 1924 justru nasionalisme-lah yang telah berperan besar dalam kehancuran Khilāfah ‘Uṡmāniyyah, sekaligus melenyapkan institusi Khilāfah yang sudah berjalan semenjak masa Khalīfah Abū Bakr dan al-Khulafā’ al- Rāsyidūn setelahnya di abad ke-7. 

* Baca Sumbernya “DISINI”