PORTAL BERITA LOMBOK

Budayakan Lombok Membaca

Riwayat Singkat Perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

11 min read

Photo: Dok. Istimewa/Net

Kajian Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) PROVINSI NTB Tahun 2017

IDENTITAS PRIBADI

b.Tempat, Tanggal Lahir:Pancor, Lombok Timur18 Rabiul Awal 1326 H / 20 April 1908
c..Pendidikan:1. Usia 5 tahun belajar Al Qur’an dan Ilmu Agama dalam keluarga.
   2. Usia 9 tahun belajar di Volk School s/d 1919 M di Distrik Selong.
   3. Usia 13 tahun bersamaan musim haji 1341 H / 1923 M belajar di halaqah Masjidil Haram s/d 1926 M.
   4. Usia 15 Tahun belajar di Madrasah Aliyah As-Shaulatiyah Mekkah, s/d 1932
d.Tempat, Tanggal Wafat :Pancor, Lombok Timur, Selasa, 21 Oktober 1997
e.Dimakamkan di:Komplek  Musholla Al -Abror, Pondok Pesantren  Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan, Pancor, Lombok Timur

RIWAYAT PERJUANGAN
Periode I : Masa Penjajahan Belanda dan Jepang

Tuan Guru Kiyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir ditengah mulai menancapnya penjajahan Hindia Belanda di Pulau Lombok, menyingkirkan penguasaan Kerajaan Hindu Bali yang sudah lama menguasai Lombok.

Baca Juga:  Pergantian Nama Bandara Internasional Lombok Manjadi Bandara Internasional KH. M. Zainuddin Abdul Majid Semakin Menguat

Kemudian TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bermukim di Mekkah sejak tahun 1923, belajar di Madrasah al-Shaulatiyah disaat jazirah Arab ada dalam masa transisi perubahan politik yang radikal. Ditandai dengan meluasnya gerakan nasional negara-nergara Arab, runtuhnya kekhalifahan Ottoman Turki, hingga berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Predikat Mumtaz / Summa Cumlaude (sempurna) disandang saat menyelesaikan studi di Madrasah As-Shaulatiyah Mekkah, tahun 1932.

Hampir dua tahun kemudian mengabdi sebagai asisten guru di almamaternya sembari menunggu adiknya TGH Muhammad Faishal dan TGH Ahmad Rifa’i yang juga menempuh studi di Mekkah.

Tahun 1934, Zainuddin muda kembali ke Lombok, tanpa kenal lelah atau beristirahat, tahun yang sama langsung memulai perjuangannya dengan mendirikan Pesantren “al-Mujahidin”, sebagai aksi nyata atas kondisi bangsanya yang terjajah dan terbelakang.

Baca Juga:  Seorang Warganet Lapor Ke Karni Ilyas Hendak Jual TV Untuk Pengobatan Keponakan, Ini Tanggapan Pak Karni

Pesantren yang dinamakan “al-Mujahidin” yang berarti “para pejuang” sebagai fondasi dan sikap awal TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menentang penjajahan dan keterbelakangan.

Dua tahun kemudian, yakni tahun 1936, Zainuddin muda mengajukan izin ke pemerintah kolonial Belanda untuk membuka Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan mulai beroperasi tahun 1937, dengan menerapkan sistem klasikal, seperti sekolah modern yang sudah dipraktekkan di Mekkah.

Nama madrasah “Nahdlatul Wathan” yang berarti “Pergerakan Tanah Air” sebagai bentuk sikap dan visi TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang sudah meletakkan perjuangannya ke dalam konteks negara dan bangsa.

Pemilihan kata Nahdlatul Wathan dalam pengembangan pendidikan pesantren Al Mujahidin, adalah wujud Zainuddin muda meletakkan konteks perjuangan dalam skala lebih luas. Meletakkan, perjuangan yang dilakukan di Lombok, sebagai bagian dari apa yang sedang diperjuangkan seluruh rakyat Nusantara.

Baca Juga:  Berikut 8 Hadiah Istimewa Yang Diterima L. M. Zohri Selain Minimarket

Meskipun sudah diizinkan beroperasi, pemerintah kolonial tetap melakukan pengawasan ketat terhadap madrasah ini. Bahkan, pemerintah kolonial sempat hendak menutup madrasah ini, karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Upaya diplomasi yang dilakukan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid membuahkan hasil, sehingga madrasah ini tetap beroperasi.

Tahun 1942, Belanda terusir dari Hindia Belanda dengan kekalahan atas Jepang yang kemudian menggantikan posisi Belanda sebagai penguasa nusantara dan sebagian besar asia pasifik. Pada masa ini, Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah yang didirikan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga tidak lepas dari incaran. 

Dai Nippon juga sempat hendak menutup madrasah ini, karena dianggap membahayakan kekuasaan Jepang. Namun, dengan upaya diplomasi yang dilakukan, salah satunya dengan alasan adanya kebutuhan imam dan penghulu bagi masyarakat Islam yang ada di Lombok, akhirnya ororitas pemerintah Jepang di Lombok tetap membiarkan madrasah ini beroperasi, tetapi dengan syarat sekolah ini dirubah sebutan menjadi “Sekolah Penghulu dan Imam”.

Pada masa penjajahan Jepang ini, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga memulai pendidikan bagi kaum perempuan, yakni dengan berdirinya Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI), tahun 1943.

Pendirian Madrasah NBDI ini sebagai penyemurnaan dan pengembangan visi TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam aspek keadilan bagi setiap orang. Khususnya soal masih belum setaranya kesempatan laki-laki dan perempuan untuk ikut dalam berbagai hal, termasuk soal akses pendidikan, dan pendirian madrasah inilah jawabannya.

Pengawasan yang semakin longgar dari otoritas Jepang juga menjadi peluang bagi TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk mendirikan madrasah NBDI…. Bersambung ke Halaman 2.