Mengenal Sosok Pahlawan Nasional TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Pendiri NWDI Dan NBDI

Pada zaman penjajahan, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikan Madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan. Rincinya, tempat menggembleng patriot-patriot bangsa yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah.
Bahkan, secara khusus, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama Gerakan Al Mujahidin. Gerakan Al Mujahidin ini bergabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia.
Pada masa pendudukan militer Jepang, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berkali-kali dipanggil untuk segera menutup dan membubarkan kedua madrasah tersebut. Alasannya, kedua madrasah ini digunakan sebagai tempat menyusun taktik dan strategi untuk menghadapi bangsa penjajah tersebut. Apalagi, kedua madrasah itu dianggap sebagai wadah yang berindikasi bangsa asing karena diajarkannya bahasa Arab.

Namun, berkat kecerdikannya, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bisa meyakinkan pihak Jepang, sehingga kedua madrasah itu tidak jadi dibubarkan. Penjelasan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di antaranya bahwa bahasa Arab adalah bahasa Alquran, bahasa Islam, dan bahasa umat Islam, bahasa yang dipakai dalam melaksanakan ibadah. Ibadah umat Islam menjadi rusak kalau tidak menggunakan bahasa Arab.
Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mempunyai peranan yang besar di Lombok. Namun, pada 7 Juli 1946, sang ulama kehilangan adik kandungnya. TGH Muhammad Faizal Abdul Majid gugur saat memimpin penyerbuan tangsi pasukan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda pasca-Perang Dunia II) di Selong. Sang adik gugur bersama dua santri NWDI sebagai syuhada.