• Lombok, Nusa Tenggara Barat
Paslon Mulyadi-Ali Mukhni Mundur Dari PDIP, Buntut Soal PANCASILA Sumbar

Paslon Mulyadi-Ali Mukhni Mundur Dari PDIP, Buntut Soal PANCASILA Sumbar

Buntut pernyataan Ketua Dewa Bidang Politik Dan Keamanan DPP Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) Puan Maharani melebar, hingga salah satu paslon Gubernur dan Wakil Gubernur SUMBAR Menarik diri dari PDIP.

Penggalan kalimat harapan semoga Sumatera Barat menjadi Provinsi yang mendukung Negara Pancasila yang dilontarkan oleh Ketua Bidang Politik dan Keamanan Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Puan Maharani ketika mengumumkan nama bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatra Barat untuk Pilkada 2020 di Jakarta beberapa hari lalu, berbuntut panjang.

Baca Juga:  Drama Apa Lagi Ini, Densus 88 Sebut NII Berencana Lengserkan Jokowi Pakai Golok?

Kalimat itu, tidak hanya membuat heboh dan menimbulkan reaksi keras dari publik di Ranah Minang. Namun juga berimbas kepada paslon yang juga diusung PDIP. Pasangan bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatra Barat periode 2020-2025 Mulyadi – Ali Mukhni, memutuskan untuk mengembalikan SK dukungan PDIP yang baru saja mereka terima.

“Ya, kami sudah sepakati bersama pak Mulyadi, kita mengembalikan SK dukungan dari PDIP. Jadi, Mulyadi – Ali Mukhni hanya diusung oleh Demokrat dan PAN,” kata Ali Mukhni, Sabtu 5 September 2020.

Baca Juga:  SDM Dan Teknologi POLRI Masuk Kategori Terbaik Di Kawasan Asia, Berikut Tanggapan Netizen

Menurut pendamping Mulyadi itu, langkah mengembalikan kembali SK dukungan PDIP yang sudah diterima, lantaran banyaknya desakan dari masyarakat Sumbar baik yang berada di ranah kampung halaman maupun yang di rantau yang menyampaikan rasa kekecewaan dengan pernyataan Puan Maharani itu.

“Memang banyak tokoh masyarakat Minang yang telepon saya. Menyampaikan kekecewaan terhadap penyataan mbak Puan,” ujar Ali Mukhni.

Sebelumnya, Puan Maharani menyampaikan ujaran dengan menyebutkan “semoga Sumatra Barat menjadi Provinsi yang mendukung Negara Pancasila”.

Ujaran itu, kemudian mengundang reaksi keras dari Masyarakat Sumatera Barat. Berbagai kecaman disampaikan publik atas pernyataan itu. Bahkan tak sedikit publik yang membuka sejarah tentang banyaknya tokoh-tokoh Minang yang punya peran dibalik penggagasan proklamasi dan ideologi pancasila.

Baca Juga:  Refly Harun: Hari Lahir Pancasila 18 Agustus 1945 Bukan 1 Juni

Baca Artikel Asilnya DISINI