Riwayat Singkat Perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Periode IV : Zaman Orde Baru
Setelah pergantian kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bergabung bersama Sekretariat Bersama Golongan Karya. Termasuk ketika Golongan Karya sebagai lembaga politik peserta Pemilu.
Selama bergabung di Golongan Karya, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tercatat sebagai anggota MPR RI, selama dua periode, yakni periode 1972-1982, hasil Pemilu II dan Pemilu III. Ketokohan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid di pentas nasional mengemuka di era tersebut, salah satunya dengan posisi sebagai Penasehat Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) Pusat, tahun 1971-1982.
Melalui Nahdlatul Wathan dengan jaringan Pondok Pesantren dan madrasah yang didirikan, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tetap memberikan peran signifikan dalam pembangunan.
Selain dalam bidang pendidikan, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga dikenal menjadi suksesor program strategis pemerintah. Seperti program Keluarga Berencana (KB), Transmigrasi, pemberantasan GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), bahkan program Imunisasi. Termasuk juga mensukseskan Gerakan Ketahanan Pangan Gogo Rancah (Gora) yang berhasil menjadikan Nusa Tenggara Barat swasembada pangan.
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ikut bahu membahu bersama muridnya yang sudah banyak menjadi tuan guru dan mengelola pondok pesantren, mensukseskan program-program strategis pemerintah, sebagai peran dalam mengangkat drajat kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Barat yang masih rendah. Seperti program KB, laju pertumbuhan penduduk di Nusa Tenggara Barat sangat tinggi, padahal sejak era 70an terjadi kekurangan pangan, sehingga memicu kejadian busung lapar di sejumlah wilayah Jawa dan Lombok.
Menekan laju pertumbuhan penduduk adalah kebutuhan dasar untuk mencegah masyarakat kian dalam terjebak kemiskinan. Awalnya program KB mendapat penolakan dari masyarakat, sehingga jumlah akseptor KB hanya 12.906, dari 103.683 Pasangan Usia Subur (PUS) yang ada, atau dengan angka prevalensi/1000 PUS, hanya 124,47. Setelah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dilibatkan, target 300 ribu akseptor bisa tercapai 84 persen.
Begitu juga dengan program transmigrasi yang secara paralel dikampanyekan, hal ini terdorong oleh tingkat kepadatan penduduk yang kian tinggi, yang berakibat pada kepemilikan lahan yang kian berkurang. Era 80an, pulau Lombok yang hanya memiliki luas 4.738 Km2 dihuni oleh 1.957.128 jiwa penduduk.
Dan setiap kelompok transmigrasi yang berangkat ke Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selalu menempatkan santrinya dalam rombongan.
Para santri TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini kemudian menjadi pioner lembaga pendidikan di daerah-daerah terpencil transmigrasi yang hingga saat ini masih eksis, bahkan berkembang pesat.
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga concern dalam bidang kesehatan masyarakat. Kondisi kesehatan ibu dan anak menjadi hal yang diperhatikan khusus, sehingga program imunisasi yang memiliki resistensi di kalangan masyarakat, dibukakan jalan oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pengajian-pengajian diselingi dengan imunisasi, bahkan TGKH Muhammad Zainuddin ikut langsung memberikan vaksi imunisasi pada balita.
Hal serupa juga dilakukan dalam memberantas GAKI, isi pengajian dari TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga menyuarakan kampanye penggunaan garam beriodium, sebab masyarakat pada waktu itu, hanya 10-16 % masyarakat yang menggunakan garam beriodium dalam pengolahan makanan sehari-hari, sehingga tingkat penderita gondok cukup tinggi. Selain itu, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga memberikan dukungan penuh terhadap pendirian Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram, yang didirikan salah satu muridnya.
Bahkan, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Syara’ di Rumah Sakit tersebut hingga akhir hayatnya.
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid konsisten hingga akhir hayat, dengan capaian luar biasa. Karya-karya tulis TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga tidak kalah banyak, mulai dari kitab fiqih, keilmuan, hingga syair dan lagu yang berisi ajaran agama, moralitas, semangat kebangsaan, sejarah dan bagaimana membangun organisasi modern.
Dalam dunia tulis menulis, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal dengan nama Hamzanwadi, akronim dari nama Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiah.
Perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan sumbangan luar biasa, dimulai dari Pesantren al-Mujahidin, di sebuah Musholla yang akhirnya menjadi cikap bakal ribuan madrasah hingga pelosok nusantara, organisasi massa Islam skala nasional, hingga perjuangan politik kebangsaan skala nasional, yang secara akumulatif memberikan kontribusi besar bagi kemajuan negara dan bangsa.
Dari Nahdlatul Wathan untuk Indonesia.
Catatan :
1. Daftar riwayat hidup ini disusun untuk pengusulan calon pahlawan nasional
2. Daftar nama TP2GD (selain itu, dalam proses penyusunan tulisan ini banyak dibantu oleh berbagai pihak yang tidak bisa dituliskan satu-persatu namanya)
- Ir. H. Rosiady H. Sayuti, M.Sc., P.hD
- Brigjen TNI (Purn.) H. Abdul Kadir, S.IP
- Dr. H. Agus Patria, S.H., MH
- H. Amir, S.Pd. MM
- Ahmad Afandi, SS, M.Pd
- AKBP. Sri Komalasari
- Mayor Inf. Januardi
- Drs. Junaidy Usman
| Sumber: https://mayung.id/riwayat-singkat-tgkh-muhammad-zainuddin-abdul-madjid/ |